Lima calon kandidat pengganti Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei (Foto: Aljazeera)
Teheran, Jurnas.com - Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei pada 1 Maret 2026 membuka babak baru dalam dinamika politik Republik Islam Iran.
Perhatian dunia kini tertuju pada proses suksesi kepemimpinan tertinggi negara tersebut yang akan ditentukan melalui rapat Dewan Majelis Ahli (Assembly of Experts), lembaga ulama yang memiliki kewenangan memilih Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Iran.
Transisi kepemimpinan ini dinilai menjadi salah satu momentum paling krusial sejak pergantian kekuasaan pada 1989, ketika Khamenei menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Dilansir dari Aljazeera pada Minggu (1/3), sejumlah nama ulama dan tokoh politik Iran kini mulai disebut sebagai kandidat kuat yang berpotensi menduduki posisi strategis tersebut.
Salah satu figur yang paling banyak diperbincangkan adalah Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei. Ia dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran elite keamanan dan Garda Revolusi Iran (IRGC), meskipun selama ini jarang tampil di ruang publik.
Kedekatannya dengan struktur kekuasaan membuatnya dianggap sebagai kandidat dengan kesinambungan ideologis paling kuat terhadap kepemimpinan sebelumnya.
Nama lain yang mencuat adalah Ayatullah Alireza Arafi, seorang ulama senior yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pendidikan keagamaan. Arafi dikenal sebagai tokoh moderat di kalangan institusi ulama serta memiliki pengalaman administratif dalam mengelola lembaga pendidikan Islam di Iran.
Selain itu, Ayatullah Muhammad Mirbagheri juga masuk dalam bursa kandidat. Ia dikenal sebagai pemikir ideologis konservatif yang memiliki pengaruh besar dalam kalangan religius garis keras.
Pandangannya yang tegas terkait perlawanan terhadap pengaruh Barat menjadikannya figur yang mendapat dukungan dari kelompok konservatif.
Sementara itu, Ayatullah Gholam Hossein Hosseini Ejei, yang saat ini memiliki latar belakang kuat di sektor hukum dan peradilan Iran, turut disebut sebagai kandidat potensial.
Pengalamannya dalam sistem kehakiman membuatnya dipandang memahami stabilitas internal negara di tengah tekanan geopolitik yang meningkat.
Figur lainnya adalah Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia dikenal memiliki citra lebih moderat dibanding kandidat lain serta kerap dipandang sebagai simbol legitimasi historis revolusi Iran.
Proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran diperkirakan berlangsung melalui pertimbangan kompleks yang mencakup faktor keagamaan, stabilitas politik domestik, serta situasi keamanan regional.
Dewan Majelis Ahli akan memainkan peran sentral dalam menentukan sosok yang dinilai mampu menjaga kesinambungan sistem Republik Islam sekaligus menghadapi tantangan geopolitik pasca wafatnya Khamenei.
Pergantian kepemimpinan ini tidak hanya menentukan arah kebijakan dalam negeri Iran, tetapi juga berpotensi memengaruhi keseimbangan politik kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan.
Dunia internasional kini menanti keputusan Tehran terkait siapa figur yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya di negara tersebut.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Calon Pengganti Dewan Majelis Ahli
























