Minggu, 01/03/2026 15:38 WIB

Profil Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Gugur Pasca Serangan AS-Israel





Stasiun televisi pemerintah Iran dan media negara telah mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei pada Minggu, 1 Maret 2026

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara dalam pesan yang disiarkan televisi, di Teheran, Iran, 26 Juni 2025. Handout via REUTERS

Jakarta, Jurnas.com - Stasiun televisi pemerintah Iran dan media negara telah mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei pada Minggu, 1 Maret 2026. Iran pun mendeklarasikan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur kerja nasional.

Diketahui, gugurnya Pemimpin Besar itu dikonfirmasi sehari pasca adanya serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap berbagai target di Iran, termasuk kawasan tempat kerja Khamenei di Teheran, pada Sabtu, 28 Februari 2026 siang waktu setempat.

Syahidnya Ali Khamenei, menandai babak paling dramatis dalam sejarah Republik Islam Iran. Ia bukan sekadar tokoh agama, melainkan figur sentral yang selama lebih dari tiga dekade menentukan arah politik, militer, hingga ideologi negara tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber, lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad dari keluarga ulama Syiah terpandang, Ali Khamenei menempuh pendidikan agama di Qom, pusat studi Islam Syiah paling berpengaruh di Iran. Di kota inilah ia berguru kepada Ruhollah Khomeini, tokoh yang memimpin Revolusi Islam 1979 dan menjadi arsitek sistem Republik Islam.

Pada era Shah Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei aktif dalam gerakan oposisi Islam dan berulang kali ditangkap serta diasingkan. Tekanan politik tersebut justru membentuk reputasinya sebagai ulama revolusioner yang konsisten menentang monarki dan pengaruh Barat.

Setelah Revolusi Islam 1979 menggulingkan dinasti Pahlavi, Khamenei masuk ke lingkaran elit kekuasaan dan dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis. Pada 1981, ia terpilih sebagai Presiden Iran dan menjabat dua periode di tengah Perang Iran–Irak, fase yang menguji ketahanan politik dan militernya.

Momentum terpenting dalam kariernya terjadi pada 1989, ketika ia ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan Khomeini. Jabatan ini, yang dikenal sebagai Rahbar, menempatkannya di puncak struktur kekuasaan, dengan kewenangan mengendalikan militer, Garda Revolusi, kehakiman, media negara, hingga kebijakan luar negeri.

Di bawah kepemimpinannya, Iran mengambil garis keras terhadap Amerika Serikat-Israel serta memperkuat jaringan sekutu regional seperti Hizbullah dan Hamas. Ia juga menjadi figur kunci dalam kebijakan nuklir Iran, mempertahankan posisi bahwa program tersebut adalah hak kedaulatan nasional.

Namun, sentralisasi kekuasaan di tangannya memicu kritik panjang, terutama terkait pembatasan kebebasan sipil dan respons keras terhadap gelombang protes domestik. Dalam dua dekade terakhir, demonstrasi terkait isu ekonomi, politik, dan hak perempuan menjadi ujian bagi stabilitas sistem yang ia pimpin.

Meski jarang memberi wawancara terbuka, Khamenei dikenal lewat pidato-pidato resmi yang menekankan “ketahanan revolusi” dan ancaman “invasi budaya Barat.” Retorikanya konsisten menjaga fondasi ideologis Republik Islam, sekaligus memperlihatkan posisinya sebagai penjaga arah revolusi.

Kini, setelah wafatnya Ali Khamanei pasca serangan militer yang mengguncang kawasan, Iran memasuki fase transisi kepemimpinan yang krusial. Warisan politik dan ideologinya akan terus membentuk arah kebijakan Iran, sekaligus memengaruhi keseimbangan geopolitik Timur Tengah dalam waktu yang belum bisa dipastikan. (*)

KEYWORD :

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Republik Islam Iran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :