Jakarta, Jurnas.com - Perang Badar bukan sekadar peristiwa militer, melainkan momentum spiritual dan politik yang mengubah arah sejarah Islam. Terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah atau sekitar Maret 624 M, pertempuran ini mempertemukan 313 kaum Muslimin melawan lebih dari 1.000 pasukan Quraisy dalam kondisi yang jauh dari seimbang.
Perang ini berlangsung di kawasan Badar, sekitar 130 kilometer dari Madinah, tepat di jalur strategis perdagangan antara Makkah dan Syam. Nama “Badar” sendiri merujuk pada sumber mata air di wilayah tersebut, yang kemudian menjadi titik kunci strategi pertempuran.
Dikutip dari berbagai sumber, konflik tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan akumulasi tekanan panjang terhadap umat Islam sejak di Makkah. Pengusiran, penyitaan harta, hingga ancaman fisik terus berlangsung bahkan setelah hijrah ke Madinah.
Awalnya, kaum Muslimin berniat menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Namun perubahan rute kafilah memicu konfrontasi langsung dengan pasukan utama Quraisy yang dipimpin Abu Jahal.
Secara militer, kekuatan kedua kubu timpang. Pasukan Muslim hanya memiliki 8 pedang, 6 baju perang, sekitar 70 unta, dan 2 kuda, sedangkan Quraisy datang dengan 1.000 prajurit, 700 unta, 300 kuda, dan ratusan perlengkapan perang lengkap.
Melihat ketimpangan itu, Nabi Muhammad SAW memanjatkan doa penuh harap. “Ya Allah, jika pasukan ini binasa, maka tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi,” demikian doa beliau yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad, termasuk dalam berbagai sumber sirah.
Al-Qur’an kemudian merekam peristiwa ini dalam Surah Ali Imran ayat 123–126 serta Surah Al-Anfal ayat 9–10, yang menyebut turunnya bantuan malaikat sebagai penguat hati kaum beriman. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah,” bunyi salah satu ayat tersebut.
Strategi menjadi faktor penentu kemenangan. Atas usulan Al-Khubab bin al-Mundzir, pasukan Muslim menguasai sumber air Badar, memutus logistik lawan, dan membangun posisi pertahanan yang lebih menguntungkan.
Pertempuran diawali duel satu lawan satu yang mempertemukan Hamzah bin Abdul Muttalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Al-Harith melawan tiga tokoh Quraisy, yakni Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah. Kemenangan kaum Muslimin dalam duel pembuka mengguncang moral pasukan Quraisy sebelum pertempuran besar meletus.
Formasi pasukan disusun rapat dan disiplin, sementara serangan diawali dengan hujan anak panah sebelum pertempuran jarak dekat dimulai. Hingga tengah hari, sekitar 70 pasukan Quraisy tewas termasuk Abu Jahal, dan 70 lainnya ditawan.
Sebaliknya, korban dari pihak Muslim tercatat 14 orang yang gugur sebagai syuhada. Kemenangan ini menjadi titik balik besar, mengangkat posisi Madinah sebagai kekuatan politik dan militer baru di Jazirah Arab.
Lebih dari sekadar kemenangan fisik, Perang Badar menjadi simbol bahwa keteguhan iman, disiplin strategi, dan kepemimpinan visioner mampu mengalahkan superioritas jumlah dan perlengkapan. Di bulan Ramadan, saat umat Islam menahan lapar dan dahaga, sejarah mencatat sebuah pertempuran dahsyat yang justru melahirkan kebangkitan.
Peristiwa yang dikenal sebagai Ghazwah Badr al-Kubra ini kemudian dikenang sebagai “kemenangan agung” yang meneguhkan eksistensi Islam di tengah tekanan eksternal. Dari padang pasir Badar, lahir babak baru peradaban yang kelak mengubah wajah sejarah dunia. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Badar Pertempuran Dahsyat Bulan Ramadan Sejarah Islam























