Sabtu, 28/02/2026 18:47 WIB

Kala Raden Fatahillah Menyerang Sunda Kelapa di Bulan Puasa





Atas mandat Sultan Trenggono, Fatahillah, panglima pasukan Demak–Cirebon, dikenal

Ilustrasi - Raden Fatahillah dan pasukan Demak menyerang SUnda Kelapa (Foto: Jakartamu)

Jakarta, Jurnas.com - Pada 22 Ramadan 933 Hijriyah atau 22 Juni 1527 Masehi, tokoh legendaris Fadhilah Khan atau Raden Fatahillah berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa, memenangkan serangkaian pertempuran melawan penjajah Portugis serta mengubah wajah sejarah kawasan pesisir utara Jawa.

Penyerangan dan perebutan Sunda Kelapa yang dipimpin oleh Fatahillah ini tidak hanya berujung pada perubahan nama kota menjadi Jayakarta, yang kemudian menjadi Jakarta, tetapi juga menjadi simbol kemenangan politik, agama, dan perdagangan bagi Kesultanan Demak dan komunitas Islam Nusantara.

Dikutip dari berbagai sumber, Sunda Kelapa pada awal abad ke-16 merupakan pelabuhan vital bagi Kerajaan Pajajaran dan tempat bertemunya ragam bangsa pedagang dari Arab, India, Cina, hingga Portugis.

Kedatangan bangsa Eropa dengan kekuatan militer membuat Kesultanan Demak, yang dipimpin Sultan Trenggono, merasa terancam bila pelabuhan strategis itu terus dikuasai pihak asing. Kolaborasi politik antara Portugis dan kerajaaan Pajajaran makin memperkuat kekhawatiran Demak tentang ancaman atas kedaulatan wilayah dan perkembangan Islam di Nusantara.

Atas mandat Sultan Trenggono, Fatahillah, panglima pasukan Demak–Cirebon yang juga dikenal sebagai laksamana dan ulama militan, memimpin ekspedisi militer ke Sunda Kelapa.

Dalam strategi yang matang itu, Fatahillah membawa armada kapal dan pasukan terlatih, serta memanfaatkan momentum ketika Portugis sedang kesulitan akibat badai dan gangguan logistik. Serangkaian aksi perang selama 1526–1527 itu berujung pada kemenangan Fatahillah atas kekuatan Portugis dan sekutu lokal mereka.

Pertempuran yang berpuncak pada 22 Juni 1527 bukan sekadar bentrokan fisik semata, tetapi juga perjuangan simbolis bagi komunitas Muslim di Jawa. Keberhasilan Fatahillah memukul balik kekuatan Portugis di pelabuhan itu kemudian disebut sebagai Fathan Mubina atau “kemenangan yang nyata”.

Nama Sunda Kelapa resmi diganti menjadi Jayakarta, yang dalam bahasa Sansekerta bermakna “kemenangan yang jaya”, mencerminkan semangat perjuangan dan dominasi baru atas wilayah yang semula dikuasai penjajah asing.

Selain dari aspek militer, keberhasilan itu menjadi titik penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah pesisir Jawa Barat dan Banten, karena interpretasi kemenangan ini juga dilihat sebagai kemenangan nilai dan politik Islam atas ekspansi kolonial Eropa.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa keberhasilan Fatahillah memperkuat status Demak sebagai kekuatan maritim Islam yang dominan di Nusantara pada era tersebut, menggeser dominasi kekuatan lokal lama yang masih berakar Hindu–Buddha.

Jejak kemenangan ini masih diperingati hingga kini sebagai Hari Jadi Kota Jakarta pada 22 Juni setiap tahun. Nama Jayakarta menjadi simbol keberanian, kedaulatan, dan identitas lokal, sekaligus pengingat bahwa strategi politik, militer, dan agama dapat membentuk sejarah kota dan bangsa.

Meski begitu, identitas Fatahillah tetap menjadi bahan kajian dan polemik sejarawan. Beberapa versi menyebut ia berasal dari Samudra Pasai, ada yang menyatakan keturunan Arab atau bangsawan ulama, sementara hubungannya dengan Sunan Gunung Jati memberi legitimasi religius dan politik yang kuat.

Beberapa kritikus mempertanyakan eksistensi figur Fatahillah dan penetapan tanggal 22 Juni 1527, karena dokumen Eropa abad ke-16 tidak menyebut namanya secara eksplisit. Namun, mayoritas sumber sejarah modern tetap mengakui perannya sebagai panglima yang menaklukkan Sunda Kelapa atas mandat Kesultanan Demak.

Peristiwa penyerangan dan penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah pada bulan Ramadan bukan hanya sebuah episode perang semata, tetapi juga bab penting dalam sejarah Indonesia yang menghubungkan dimensi militer, politik, agama, dan identitas nasional yang berlanjut sampai hari ini. (*)

 

KEYWORD :

Raden Fatahillah Sunda Kelapa Puasa Ramadan Bulan Ramadan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :