Sabtu, 28/02/2026 13:59 WIB

Studi: Kawin Silang Manusia dan Neanderthal Didominasi Pria Neanderthal





Studi terbaru mengungkap bahwa kawin silang di masa prasejarah lebih sering terjadi antara pria Neanderthal dan perempuan Homo sapiens

Ilustrasi - Pria Neanderthal (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Hubungan intim antara manusia modern dan Neanderthal ternyata tidak sepenuhnya acak. Studi terbaru mengungkap bahwa kawin silang di masa prasejarah lebih sering terjadi antara pria Neanderthal dan perempuan Homo sapiens, pola yang membantu menjelaskan misteri “gurun Neanderthal” dalam genom manusia modern.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science itu dipimpin oleh ahli genetika populasi Alexander Platt dari University of Pennsylvania. Timnya menganalisis genom manusia modern dan Neanderthal untuk memahami mengapa jejak DNA Neanderthal sangat jarang ditemukan pada kromosom X manusia saat ini.

Dikutip dari Live Science, sejak genom pertama Homo sapiens dan Neanderthal berhasil diurutkan lebih dari dua dekade lalu, ilmuwan menemukan fenomena yang disebut “Neanderthal deserts”. Istilah ini merujuk pada bagian kromosom manusia modern, terutama kromosom X, yang hampir tidak mengandung warisan genetik Neanderthal.

Padahal, setelah kedua spesies ini berpisah sekitar 600.000 tahun lalu, mereka kembali bertemu dan kawin silang di Eurasia. Dampaknya, mayoritas populasi non-Afrika saat ini membawa rata-rata sekitar 2 persen DNA Neanderthal, sementara sebagian kelompok Afrika memiliki hingga 1,5 persen akibat migrasi balik dari Eurasia.

Selama bertahun-tahun, ilmuwan menduga gen Neanderthal di kromosom X “beracun” secara biologis dan tersingkir melalui seleksi alam. Namun analisis terbaru menunjukkan penjelasan yang lebih sederhana: preferensi pasangan.

Tim peneliti membandingkan genom 73 perempuan dari tiga populasi Afrika modern tanpa nenek moyang Neanderthal, termasuk !Xoo dan Ju|`hoansi, dengan genom Neanderthal. Hasilnya menunjukkan kromosom X Neanderthal justru mengandung lebih banyak jejak DNA manusia modern dibanding kromosom lainnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa kawin silang lebih sering melibatkan perempuan Homo sapiens dan pria Neanderthal. Karena perempuan memiliki dua kromosom X dan laki-laki hanya satu, pola tersebut secara matematis menghasilkan lebih sedikit kromosom X Neanderthal yang diwariskan ke populasi manusia modern.

Meski demikian, alasan di balik preferensi tersebut masih menjadi tanda tanya. Platt menyatakan belum ada “tanda tangan genetik” yang dapat menjelaskan siapa yang memilih siapa atau faktor sosial apa yang memengaruhi dinamika itu.

Penelitian sebelumnya terhadap kromosom Y Neanderthal memang menunjukkan adanya kawin silang antara pria Homo sapiens dan perempuan Neanderthal. Namun data terbaru memperlihatkan bahwa secara keseluruhan, kombinasi pria Neanderthal dan perempuan Homo sapiens tampaknya lebih dominan dalam sejarah evolusi.

Para peneliti tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain seperti migrasi spesifik gender, struktur sosial, atau seleksi alam yang turut membentuk pola genetik tersebut. Studi lanjutan kini diarahkan untuk memahami struktur sosial dan peran gender dalam masyarakat Neanderthal, guna mengungkap bagaimana pilihan pasangan membentuk warisan genetik manusia modern.

Temuan ini menunjukkan bahwa evolusi manusia bukan sekadar soal bertahan hidup, tetapi juga tentang pilihan sosial dan reproduksi. Jejak kecil DNA Neanderthal dalam tubuh manusia modern hari ini menjadi bukti bahwa preferensi pasangan puluhan ribu tahun lalu masih tercermin dalam genom kita. (*)

KEYWORD :

Kawin Silang Manusia dan Neanderthal Homo sapiens dan Neanderthal




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :