Jum'at, 27/02/2026 18:55 WIB

Iran Desak AS Setop Tuntutan Berlebihan sepanjang Perundingan





Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendesak Amerika Serikat menghentikan tuntutan berlebihan jika ingin mencapai kesepakatan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi (Foto: Reuters)

Teheran, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendesak Amerika Serikat menghentikan tuntutan berlebihan jika ingin mencapai kesepakatan, setelah kedua pihak menggelar perundingan nuklir di Jenewa, Swiss.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, Araghchi mengatakan keberhasilan diplomasi memerlukan keseriusan dan realisme dari pihak lain serta menghindari kesalahan perhitungan dan tuntutan berlebihan.

Dikutip dari Reuters pada Jumat (27/2), dia tidak merinci tuntutan yang dimaksud. Namun, Washington sebelumnya menyoroti program rudal balistik Iran dan berulang kali menyebut kemampuan pengayaan uranium Teheran sebagai garis merah.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan Iran telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan AS di luar negeri, serta tengah berupaya membangun rudal yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Iran saat ini “tidak melakukan pengayaan, tetapi berusaha mencapai titik tersebut,” seraya menambahkan bahwa Teheran menolak membahas program rudal balistiknya, yang menurutnya menjadi masalah besar.

Iran berulang kali menegaskan program rudalnya merupakan bagian dari kemampuan pertahanan nasional dan menolak menghentikan pengayaan uranium. Teheran juga bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

Iran dan Amerika Serikat, yang telah lama berseteru, menggelar putaran ketiga perundingan nuklir yang dimediasi Oman pada Kamis di Jenewa. Upaya tersebut bertujuan mencegah eskalasi militer di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan.

Iran dan Oman sama-sama menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan tersebut. Diskusi teknis dijadwalkan berlangsung Senin di Wina menjelang putaran keempat yang diperkirakan digelar pekan depan.

Sementara itu, Kepala HAM PBB Volker Turk menyatakan sangat khawatir terhadap risiko eskalasi militer regional di sekitar Iran, yang menghadapi ancaman serangan berulang dari AS.

Berbicara di Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Turk memperingatkan dampak konflik terhadap warga sipil dan berharap akal sehat dapat dikedepankan.

Dia juga menyoroti situasi domestik Iran setelah tindakan keras besar-besaran terhadap protes nasional bulan lalu, yang menurut kelompok hak asasi manusia menewaskan ribuan orang.

Menurut Turk, situasi di Iran tetap tidak stabil. Dalam beberapa hari terakhir muncul gelombang baru aksi protes di sejumlah universitas, menandakan keluhan mendasar masyarakat belum terselesaikan.

Dia menyebut masih terdapat laporan penindasan, termasuk penangkapan dan tekanan terhadap ruang akademik, serta ribuan orang yang masih hilang.

KEYWORD :

kesepakatan nuklir Iran perang AS vs Iran Menlu Abbas Araghchi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :