Sabah, Malaysia dilanda banjir (Foto: Straits Times)
Kota Kinabalu, Jurnas.com - Hampir 6.000 orang terpaksa mengungsi karena situasi banjir di Sabah masih berada pada tahap kritis saat memasuki hari ketiga, terutama di wilayah pedalaman dan pesisir barat daya negara bagian tersebut.
Sebanyak 5.860 penduduk dari 2.067 keluarga terdampak banjir di daerah pedalaman Tenom dan Sook, serta di Beaufort, Membakut, dan Sipitang di pesisir barat daya.
Menurut Pusat Komando Bencana Negara Bagian Sabah, Tenom menjadi wilayah paling parah terdampak dengan 3.544 korban dari 1.207 keluarga di 46 desa.
Beaufort mencatat 1.462 korban dari 513 keluarga di 58 desa, Membakut sebanyak 435 korban dari 171 keluarga di 16 desa, dan Sipitang 340 korban dari 151 keluarga di 22 desa. Sook melaporkan 79 korban dari 25 keluarga di empat desa.
Secara keseluruhan, 146 desa terdampak banjir dan para korban ditempatkan di 29 pusat pemindahan sementara hingga pukul 12.00 siang, 27 Februari, setelah banjir melanda sejak 25 Februari.
Puluhan sekolah masih terdampak, baik karena terendam banjir maupun akibat akses jalan yang tidak dapat dilalui. Sejumlah sekolah juga difungsikan sebagai pusat penampungan sementara.
Layanan kereta api dari Kota Kinabalu menuju Beaufort turut terganggu akibat banjir di distrik dataran rendah tersebut, yang untuk ketiga kalinya dilanda banjir sepanjang 2026.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, namun pejabat memperkirakan kerusakan signifikan pada tanaman pertanian, ternak, dan properti warga.
Menteri Pertanian, Perikanan, dan Industri Makanan Sabah, Jamawi Jaafar, telah menginstruksikan petugasnya untuk meninjau kawasan terdampak di Tenom, Nabawan, Sook, Tongod, Sipitang, Beaufort, dan Pitas.
Peninjauan tersebut bertujuan menilai tingkat kerusakan pada tanaman, ternak, serta infrastruktur pertanian.
“Mereka harus mengoordinasikan bantuan segera kepada para petani, peternak, dan nelayan yang terdampak banjir,” ujar Jaafar dikutip dari The Straits Times pada Jumat (27/2).
Jamawi juga menyatakan kementeriannya akan bekerja sama dengan instansi terkait di tingkat distrik guna memastikan bantuan, termasuk pakan ternak, benih tanaman, dan dukungan teknis, dapat segera disalurkan.
Menanggapi kondisi banjir di Beaufort, anggota Parlemen Sipitang, Matbali Musah, menekankan pentingnya Kementerian Keuangan menyediakan tambahan alokasi darurat khusus.
“Alokasi darurat khusus diperlukan untuk menangani bencana alam yang kerap terjadi, terutama di Sabah,” katanya di parlemen.
Gelombang pertama banjir terjadi antara 18 hingga 24 Februari di wilayah utara Sabah, yakni Pitas dan Paitan di bawah distrik Beluran, serta di Tawau di bagian tenggara.
Lebih dari 5.000 orang sempat dipindahkan ke pusat penampungan saat gelombang pertama tersebut, meski situasi di wilayah itu kini telah berangsur membaik.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
banjir Sabah 2026 Sabah kritis warga Malaysia mengungsi



























