Ilustrasi Hari Kesadaran Anosmia (Foto: Brittany Colette/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap 27 Februari, dunia memperingati Hari Kesadaran Anosmia atau Anosmia Awareness Day, momentum global untuk meningkatkan pemahaman tentang gangguan hilangnya kemampuan mencium bau. Peringatan 2026 kembali menegaskan bahwa anosmia bukan sekadar keluhan ringan, melainkan kondisi medis yang dapat memengaruhi keselamatan dan kualitas hidup.
Dikutip dari berbagai sumber, Hari Kesadaran Anosmia pertama kali dicanangkan pada 2012 oleh Daniel Schein, yang telah didiagnosis anosmia sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia kemudian mendirikan organisasi Anosmia Awareness untuk mendorong edukasi, riset, serta dukungan komunitas bagi para penyintas gangguan penciuman.
Secara medis, anosmia adalah kondisi ketika proses penghantaran sinyal bau dari hidung ke otak terganggu. Dalam keadaan normal, molekul aroma merangsang saraf olfaktori di rongga hidung sebelum diterjemahkan otak menjadi sensasi bau yang dikenali.
Namun pada penderita anosmia, rangkaian itu terhenti atau rusak sehingga bau menyengat seperti asap kebakaran atau gas bocor pun bisa tidak terdeteksi. Kondisi ini membuat anosmia berisiko fatal karena menghilangkan sistem peringatan alami tubuh terhadap bahaya.
Menurut penjelasan medis dari Cleveland Clinic, penyebab anosmia paling umum adalah infeksi saluran pernapasan seperti flu, influenza, sinusitis, dan rhinitis alergi. Dalam banyak kasus, gangguan ini bersifat sementara dan membaik ketika peradangan mereda.
Meski demikian, anosmia juga dapat dipicu penyumbatan fisik seperti polip hidung, tumor, atau kelainan struktur tulang hidung. Pada kondisi tertentu, tindakan medis hingga operasi diperlukan untuk memulihkan fungsi penciuman.
Lebih serius lagi, anosmia bisa menjadi sinyal gangguan saraf atau penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Cedera kepala, tumor otak, hingga komplikasi metabolik tertentu turut tercatat sebagai faktor risiko.
Fenomena ini menjadi perhatian luas saat pandemi COVID-19, ketika hilangnya penciuman muncul sebagai salah satu gejala khas infeksi. Sejumlah studi mencatat sebagian besar kasus bersifat sementara, tetapi sebagian kecil mengalami gangguan jangka panjang.
Dampak anosmia tak berhenti pada kemampuan mencium bau, melainkan juga memengaruhi indra pengecap sehingga makanan terasa hambar. Akibatnya, nafsu makan menurun, risiko malnutrisi meningkat, bahkan gangguan psikologis seperti depresi bisa muncul.
Karena itu, Hari Kesadaran Anosmia 2026 menekankan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan medis jika kehilangan penciuman terjadi tiba-tiba tanpa flu. Pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, MRI, atau endoskopi hidung dapat membantu mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya.
Peringatan ini juga mengajak masyarakat mengambil langkah pencegahan sederhana, mulai dari menjaga kesehatan saluran pernapasan, menghindari rokok dan paparan bahan kimia, hingga memasang alarm asap di rumah. Dalam konteks yang lebih luas, edukasi publik menjadi kunci agar anosmia tidak lagi dipandang sebagai gangguan sepele.
Hari Kesadaran Anosmia bukan sekadar simbol kampanye, melainkan pengingat bahwa indra penciuman adalah bagian penting dari sistem perlindungan tubuh. Menjaga kesehatan penciuman berarti menjaga keselamatan, nutrisi, dan kualitas hidup secara menyeluruh. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gangguan Anosmia Indra Penciuman Hilang Hari Kesadaran Anosmia 27 Februari



























