Beruang kutub di Kutub Utara (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap 27 Februari, dunia memperingati Hari Beruang Kutub Internasional sebagai momentum global untuk menyelamatkan predator puncak Arktik dari ancaman krisis iklim. Peringatan tahun 2026 kembali menyoroti isu paling krusial, yakni mencairnya es laut yang menjadi fondasi hidup spesies ini.
Hari Beruang Kutub Internasional pertama kali digagas pada 2011 oleh Polar Bears International, organisasi nirlaba yang berdiri sejak 1994 dan fokus pada perlindungan beruang kutub. Tanggal 27 Februari dipilih karena bertepatan dengan periode penting ketika induk beruang berada di dalam sarang bersama anaknya, fase krusial bagi kelangsungan populasi.
Dikutip dari berbagai sumber, secara ilmiah, beruang kutub diklasifikasikan sebagai mamalia laut dengan lapisan lemak tebal dan bulu tahan air yang memungkinkan mereka bertahan di suhu ekstrem Arktik. Namun kemampuan adaptif itu kini diuji oleh laju pemanasan global yang mempercepat penyusutan es laut.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), beruang kutub berstatus “Vulnerable” atau rentan dalam daftar merah spesies terancam. Sementara World Wildlife Fund (WWF) memperkirakan populasi globalnya tersisa sekitar 22.000 hingga 31.000 ekor yang tersebar dalam 19 subpopulasi di Rusia, Alaska, Kanada, Greenland, dan Norwegia.
Data NASA menunjukkan luas es laut Arktik menyusut sekitar 12,2 persen per dekade. Akibatnya, beruang kutub harus berenang lebih jauh untuk memburu anjing laut, mangsa utama mereka, yang berdampak pada lonjakan pengeluaran energi dan risiko kelaparan.
Penelitian dalam jurnal Science oleh Dr. Anthony Pagano dari U.S. Geological Survey mengungkap beruang kutub kini membakar lebih banyak energi daripada yang mereka peroleh dari makanan. Ketidakseimbangan metabolik ini mempercepat penurunan kondisi fisik dan tingkat kelangsungan hidup.
Ancaman terhadap beruang kutub sejatinya telah direspons sejak 1973 melalui “Agreement on the Conservation of Polar Bears” yang ditandatangani Amerika Serikat, Denmark, Norwegia, dan Uni Soviet. Regulasi itu membatasi perburuan komersial dan menjadi tonggak diplomasi konservasi Arktik modern.
Di Amerika Serikat, U.S. Fish and Wildlife Service menetapkan beruang kutub sebagai spesies terancam di bawah Endangered Species Act. Kebijakan ini mengakui bahwa hilangnya es laut akibat pemanasan global merupakan ancaman eksistensial jangka panjang.
Kepala ilmuwan Polar Bears International, Dr. Steven Amstrup, menegaskan masa depan beruang kutub bergantung pada keberhasilan manusia menekan emisi gas rumah kaca. Ia menekankan target pembatasan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius sebagai batas aman untuk mempertahankan habitat es laut musiman, demikian dikutip RRI.
Secara historis, spesies ini diperkirakan muncul sekitar 150.000 tahun lalu berdasarkan temuan fosil di Svalbard, Norwegia. Namun dalam dua abad terakhir, tekanan perburuan dan revolusi industri berbasis bahan bakar fosil mengubah keseimbangan ekosistem Arktik secara drastis.
Hari Beruang Kutub Internasional 2026 bukan sekadar kampanye simbolik, melainkan pengingat bahwa penyelamatan satu spesies berarti menjaga stabilitas ekosistem global. Nasib beruang kutub menjadi indikator kesehatan Bumi, dan krisis yang mereka hadapi hari ini mencerminkan tantangan iklim yang juga mengancam manusia. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hari Beruang Kutub Internasional 27 Februari Peringatan Hari Beruang Kutub


























