Jum'at, 27/02/2026 15:40 WIB

Kisah Zahir bin Haram, Sahabat Sederhana yang Dimuliakan Nabi SAW





Zahir bin Haram mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu berjalan beriringan dengan popularitas.

Ilustrasi - sahabat Rasulullah SAW (Foto: Ist/Terasmuslim.com)

Jakarta, Jurnas.com - Nama Zahir bin Haram mungkin tidak sepopuler sahabat-sahabat besar lainnya. Ia bukan pemuka kabilah, bukan pula pejuang yang sering disebut dalam pertempuran besar.

Zahir hanyalah seorang lelaki Badui dari pedalaman yang hidup sederhana dan berpenampilan biasa. Namun justru dari kesederhanaannya itulah tampak kemuliaan yang diakui langsung oleh Rasulullah SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, diceritakan bahwa Zahir sering datang dari kampungnya membawa barang dagangan dan sebagian ia hadiahkan kepada Nabi SAW. Rasulullah SAW pun menaruh kasih sayang yang besar kepadanya.

Suatu hari, ketika Zahir sedang berjualan di pasar, Nabi SAW datang dari belakang lalu memeluknya. Awalnya Zahir tidak mengetahui siapa yang memeluknya, hingga ia menyadari bahwa itu adalah Rasulullah SAW.

Dalam suasana penuh kehangatan itu, Nabi SAW bersabda dengan nada bercanda, “Siapa yang mau membeli budak ini?” Mendengar hal tersebut, Zahir menjawab dengan rendah hati, “Wahai Rasulullah, kalau begitu engkau akan mendapatiku sebagai barang yang tidak laku.”

Rasulullah SAW kemudian menenangkan hatinya dengan kalimat yang sangat menyentuh, “Tetapi di sisi Allah engkau tidaklah murah. Engkau sangat berharga.”

Ucapan ini bukan sekadar gurauan, melainkan penguatan bahwa nilai manusia tidak ditentukan rupa, kedudukan, atau harta, melainkan iman.

Makna tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kisah Zahir bin Haram menjadi gambaran nyata dari ayat tersebut. Di mata manusia ia mungkin tidak menonjol, tetapi di sisi Allah dan Rasul-Nya ia memiliki kedudukan tinggi karena keikhlasan dan ketakwaannya.

Peristiwa ini juga menunjukkan kelembutan akhlak Rasulullah SAW. Beliau dekat dengan para sahabat, menghibur mereka, serta menguatkan harga diri mereka dengan kata-kata yang menenangkan. Dakwah Nabi tidak selalu dalam bentuk nasihat serius, tetapi juga melalui candaan yang penuh hikmah dan kasih sayang.

Zahir bin Haram mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu berjalan beriringan dengan popularitas. Seseorang yang tidak dikenal manusia bisa jadi memiliki kedudukan tinggi di langit. Selama iman dan keikhlasan terjaga, seorang hamba tetap bernilai mulia di sisi Allah SWT.

KEYWORD :

Info Keislaman Zahir bin Haram Rasulullah SAW Sahabat Nabi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :