Jum'at, 27/02/2026 00:01 WIB

Untuk Pertama Kalinya, Parasit Ular Ditemukan Hidup di Otak Manusia





Kasus medis langka di Australia, cacing ular yang belum pernah menginfeksi manusia ditemukan hidup di otak seorang wanita

Kasus medis langka, cacing ular yang belum pernah menginfeksi manusia ditemukan hidup di otak seorang wanita di Australia (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah kasus medis langka menggemparkan dunia kedokteran setelah dokter menemukan parasit yang belum pernah tercatat menginfeksi manusia sebagai penyebab kerusakan paru-paru, organ dalam, hingga gangguan memori pada seorang wanita di Australia. Parasit tersebut diketahui sebagai larva tahap ketiga dari Ophidascaris robertsi, nematoda yang biasanya hidup di tubuh ular piton.

Pasien adalah perempuan berusia 64 tahun dari New South Wales yang awalnya dirawat karena nyeri perut dan diare selama tiga minggu. Ia juga mengalami batuk kering berkepanjangan serta keringat malam.

Dikutip dari Live Science, CT scan menunjukkan adanya penebalan jaringan paru yang mengarah pada infeksi atau peradangan, sementara pemeriksaan lebih lanjut menemukan lesi pada hati dan limpa. Sampel cairan paru memperlihatkan kadar eosinofil tinggi, sehingga dokter mendiagnosisnya dengan pneumonia eosinofilik dan memberikan prednisolone.

Meski gejala sempat mereda, tiga minggu kemudian pasien kembali dengan demam dan batuk yang memburuk. Lesi pada organ dalamnya tidak membaik, sementara berbagai tes tidak menemukan bakteri, jamur, maupun parasit umum seperti Schistosoma atau Fasciola.

Dokter kemudian meresepkan ivermectin karena pasien pernah bepergian ke negara endemik parasit. Namun kondisinya tak kunjung pulih, bahkan memburuk saat dosis steroid diturunkan, dan situasi ini berlangsung berbulan-bulan tanpa kepastian diagnosis.

Sekitar satu tahun setelah kunjungan pertamanya, pasien mulai mengalami depresi dan episode lupa. MRI otak mengungkap adanya lesi di lobus frontal kanan, yang mendorong dokter melakukan biopsi terbuka.

Di dalam jaringan otak tersebut, tim medis menemukan struktur seperti benang berwarna merah terang sepanjang sekitar delapan sentimeter. Struktur itu ternyata cacing hidup, jenis helminth, yang belum pernah dilaporkan menginfeksi manusia sebelumnya.

Cacing tersebut diangkat dari otak pasien, dan jaringan sekitarnya dipastikan bersih dari parasit lain. Pasien kemudian menjalani terapi kombinasi ivermectin dan albendazole selama beberapa minggu, ditambah dexamethasone untuk mencegah peradangan lanjutan.

Enam bulan setelah operasi, lesi di paru dan hati menghilang, jumlah sel darah putih kembali normal, dan gejala neuropsikiatri membaik signifikan. Pemulihan ini mengakhiri teka-teki medis yang berlangsung lebih dari setahun.

Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa Ophidascaris robertsi biasanya berkembang biak di dalam tubuh ular piton karpet atau Morelia spilota yang umum ditemukan di sekitar rumah pasien. Meski tidak pernah bersentuhan langsung dengan ular, pasien kerap memetik tanaman liar untuk dimasak, yang diduga terkontaminasi telur parasit dari lingkungan.

Telur yang tertelan kemungkinan menetas di dalam tubuh dan larvanya bermigrasi ke organ-organ vital, termasuk otak. Pada hewan pengerat, larva spesies ini memang diketahui dapat bertahan bertahun-tahun, tetapi infeksi pada manusia belum pernah terdokumentasi sebelumnya.

Kasus ini menjadi laporan pertama infeksi manusia oleh O. robertsi sekaligus pertama kalinya larva parasit tersebut ditemukan di otak inangnya. Temuan ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap infeksi zoonosis langka, terutama di wilayah dengan interaksi erat antara manusia dan satwa liar.

Meski ekstrem dan sangat jarang, kasus ini menjadi pengingat bahwa gejala infeksi yang tak kunjung terdiagnosis memerlukan evaluasi menyeluruh. Dunia medis pun kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa patogen baru masih bisa muncul dari lingkungan sekitar kita. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Kasus Medis Langka Cacing Ular Ophidascaris robertsi Otak Manusia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :