Ilustrasi gejala anosmia ( Foto: Kontan )
Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 27 Februari diperingati sebagai Hari Kesadaran Anosmia atau Anosmia Awareness Day. Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gangguan hilangnya kemampuan penciuman.
Lantas apa sebenarnya anosmia? Bagaimana gejala anosmia, dan bagaimana pecegahannya? Berikut ulasannya yang dikutip dari berbagai sumber.
Anosmia adalah kondisi hilangnya kemampuan mencium bau, gangguan yang kerap dianggap sepele padahal berdampak besar pada kualitas hidup. Ketika indra penciuman terganggu, makanan terasa hambar, nafsu makan menurun, hingga risiko depresi meningkat.
Secara medis, anosmia terjadi saat proses penghantaran sinyal bau dari hidung ke otak terganggu. Dalam kondisi normal, molekul aroma merangsang sel saraf olfaktori di rongga hidung, lalu sinyal dikirim ke otak untuk diidentifikasi.
Namun pada penderita anosmia, rangkaian proses tersebut terhambat atau terputus. Akibatnya, seseorang tidak mampu mengenali aroma, bahkan bau menyengat seperti gas bocor atau asap kebakaran pun bisa tidak tercium.
Dalam banyak kasus, anosmia bersifat sementara dan dipicu infeksi ringan seperti flu, pilek, sinusitis, atau rhinitis alergi. Ketika peradangan mereda, fungsi penciuman umumnya kembali normal tanpa terapi khusus.
Meski demikian, anosmia juga dapat disebabkan penyumbatan fisik di rongga hidung, seperti polip, tumor, atau kelainan tulang hidung. Pada kondisi ini, tindakan medis seperti operasi mungkin diperlukan untuk memulihkan aliran udara dan fungsi saraf penciuman.
Lebih serius lagi, anosmia dapat berkaitan dengan kerusakan sistem saraf atau otak. Cedera kepala, tumor otak, diabetes, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson termasuk faktor risiko yang harus diwaspadai.
Selain itu, infeksi virus Corona atau COVID-19 sempat menjadikan anosmia sebagai gejala khas. Sejumlah penelitian menunjukkan sekitar setengah pasien COVID-19 mengalami gangguan penciuman, meski sebagian besar kasus bersifat sementara.
Gejala utama anosmia adalah hilangnya kemampuan mencium bau, baik sebagian maupun total. Pada kondisi berat, penderita juga mengalami ageusia atau penurunan fungsi pengecap, sehingga makanan terasa hambar dan tidak menggugah selera.
Kehilangan indra penciuman bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga keamanan. Tanpa kemampuan mencium bau, risiko keracunan makanan, kebocoran gas, atau kebakaran meningkat signifikan.
Diagnosis anosmia dilakukan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Dokter dapat merekomendasikan CT scan, MRI, endoskopi hidung, atau pemeriksaan saraf untuk mencari penyebab yang mendasari.
Pengobatan anosmia sepenuhnya bergantung pada faktor pemicunya. Infeksi bakteri diatasi dengan antibiotik, hidung tersumbat dengan dekongestan, sementara kelainan struktural seperti polip atau tumor memerlukan tindakan bedah.
Namun pada kasus bawaan sejak lahir atau akibat kerusakan saraf permanen, anosmia sering kali tidak dapat disembuhkan. Dalam situasi ini, pencegahan risiko menjadi kunci, seperti memasang alarm asap dan memeriksa tanggal kedaluwarsa makanan secara rutin.
Upaya pencegahan juga penting dilakukan, terutama dengan menjaga daya tahan tubuh, menghindari rokok dan paparan bahan kimia berbahaya, serta mengelola alergi dengan baik. Jika kehilangan penciuman terjadi tiba-tiba tanpa flu dan disertai gejala seperti pusing atau bicara tidak jelas, pemeriksaan medis segera sangat dianjurkan.
Anosmia mungkin tak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan luas. Memahami penyebab serta gejalanya menjadi langkah awal untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup tetap optimal.
Sumber: Siloam Hospital, Alodokter, dan berbagai sumber lainnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gangguan Anosmia Indra Penciuman Hilang Hari Kesadaran Anosmia


























