Ilustrasi media sosial (Foto: AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang membagikan aktivitas, opini, hingga perasaan secara terbuka kepada publik.
Namun tidak sedikit pula yang hanya menjadi pengamat, jarang mengunggah foto, bahkan hampir tidak pernah memperbarui status. Fenomena ini sering menimbulkan anggapan bahwa mereka tertutup, tidak percaya diri, atau kurang pergaulan.
Dalam psikologi, kebiasaan tersebut justru dapat mencerminkan karakter tertentu dan tidak selalu bermakna negatif.
Breakup Day dan Cara Baru Memaknai Perpisahan
Orang yang jarang memposting umumnya memiliki kontrol diri lebih kuat terhadap informasi pribadi. Mereka cenderung memisahkan ruang privat dan ruang publik secara jelas.
Berdasarkan penelitian psikologi kepribadian, individu dengan tingkat self-monitoring tinggi lebih berhati-hati membagikan pengalaman personal karena mempertimbangkan konsekuensi sosial dari unggahan mereka. Mereka bukan tidak memiliki aktivitas, melainkan memilih tidak menjadikannya konsumsi umum.
Selain itu, faktor kesadaran privasi berperan penting. Sebagian orang memandang media sosial sebagai ruang terbuka dengan risiko penilaian sosial maupun penyalahgunaan data.
Berdasarkan penelitian perilaku digital dalam Computers in Human Behavior Journal, individu dengan tingkat kesadaran privasi tinggi cenderung membatasi unggahan pribadi dan lebih banyak menjadi pengamat daripada pembagi informasi.
Beberapa studi juga mengaitkan penggunaan media sosial berlebihan dengan tekanan psikologis. Berdasarkan penelitian psikologi kesehatan mental, paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain di media sosial dapat meningkatkan perbandingan diri dan memicu stres.
Individu yang membatasi unggahan serta konsumsi konten cenderung memiliki kesejahteraan emosional lebih stabil karena tidak terjebak dalam kompetisi sosial virtual.
Sebagian orang memandang pengalaman lebih bermakna ketika dijalani secara langsung, bukan dipamerkan. Dalam teori motivasi intrinsik, seseorang yang memperoleh kepuasan dari dalam dirinya tidak membutuhkan pengakuan eksternal untuk merasa bahagia.
Karena itu, mereka lebih memilih hadir sepenuhnya dalam aktivitas nyata dibanding mendokumentasikannya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Media Sosial Kepribadian Introvert Jarang Posting Medsos
























