Ilustrasi Rabiah al-Adawiyah (Foto: Wikipedia)
Jakarta, Jurnas.com - Rabiah al-Adawiyah merupakan tokoh perempuan penting dalam sejarah Islam, khususnya dalam tradisi tasawuf. Ia hidup pada abad ke-8 Masehi dan berasal dari kota Basra, Irak.
Dalam literatur klasik Islam, namanya kerap disebut sebagai pelopor ajaran mahabbah atau cinta tulus kepada Allah. Kehidupannya tidak dipenuhi kekuasaan maupun kemewahan, tetapi justru menjadi teladan kesederhanaan dan kedalaman spiritual.
Rabiah lahir dari keluarga miskin. Ia adalah anak keempat dari keluarganya, sehingga diberi nama “Rabiah” yang berarti “keempat”. Masa kecilnya berlangsung dalam kondisi sulit.
Setelah kedua orang tuanya wafat, Basra dilanda krisis dan kelaparan. Dalam situasi tersebut ia terpisah dari keluarganya dan sempat hidup sebagai budak.
Kehidupan sebagai budak menjadi fase penting dalam perjalanan hidupnya. Ia dikenal tekun beribadah, sering bangun malam untuk salat dan berdoa.
Dikisahkan suatu ketika majikannya melihat Rabiah beribadah pada malam hari dengan penuh kekhusyukan. Melihat ketekunannya, majikan tersebut akhirnya membebaskannya karena menganggap Rabiah sebagai perempuan yang saleh.
Setelah merdeka, Rabiah memilih menjalani hidup sederhana. Ia tidak tertarik pada kekayaan maupun kedudukan. Ia menghabiskan waktunya dengan ibadah, puasa, zikir, dan tafakur.
Lima Tokoh Muslim yang Lahir di Bulan Syaban
Banyak orang datang untuk belajar darinya, termasuk para ulama dan ahli ibadah pada masa itu. Meski seorang perempuan, kedalaman ilmunya diakui para tokoh sufi.
Ciri khas ajaran Rabiah adalah konsep ibadah yang didasarkan pada cinta kepada Allah. Ia mengajarkan bahwa seorang hamba seharusnya beribadah bukan karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena mencintai Tuhan.
Salah satu doanya yang terkenal menyatakan bahwa ia tidak ingin menyembah Allah karena imbalan, melainkan karena Allah memang layak disembah.
Dalam kehidupannya, Rabiah memilih tidak menikah. Ia berpendapat bahwa seluruh hidupnya ingin dipersembahkan untuk beribadah. Banyak tokoh terpandang pada masa itu yang melamarnya, namun ia menolak dengan halus. Baginya, hubungan dengan Tuhan menjadi prioritas utama dalam hidup.
Kesederhanaan juga tampak dari kesehariannya. Ia hidup dengan sangat minimal, sering berpuasa, dan tidak menyimpan harta. Ketika diberi bantuan, ia hanya menerima secukupnya. Ia memandang ketergantungan pada materi dapat menghalangi kedekatan spiritual dengan Allah.
Pengaruh Rabiah al-Adawiyah meluas dalam dunia tasawuf. Ajarannya tentang cinta ilahi menjadi salah satu dasar penting dalam perkembangan pemikiran sufi setelahnya. Banyak ulama sufi menempatkannya sebagai figur teladan dalam keikhlasan dan ketakwaan.
Rabiah wafat sekitar tahun 801 Masehi di Basra. Meski telah berabad-abad berlalu, kisah kehidupannya tetap dikenang dalam literatur Islam. Ia bukan dikenal karena kekuasaan atau jabatan, melainkan karena keteguhan iman dan pandangan spiritualnya yang menekankan hubungan pribadi manusia dengan Tuhan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Rabiah al-Adawiyah Tokoh Muslim Sufi Perempuan






















