Kamis, 26/02/2026 13:55 WIB

Studi Genomik Ungkap Keturunan Genghis Khan Jauh Lebih Sedikit dari Dugaan





Selama lebih dari dua dekade, klaim bahwa satu dari 200 pria di dunia adalah keturunan Genghis Khan diterima luas dalam literatur populer maupun akademik

Ilustrasi - Genghis Khan beserta keturunannya (Foto: Via Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Selama lebih dari dua dekade, klaim bahwa satu dari 200 pria di dunia adalah keturunan Genghis Khan diterima luas dalam literatur populer maupun akademik. Namun studi genomik terbaru yang terbit 19 Februari di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menyimpulkan angka tersebut kemungkinan besar terlalu dibesar-besarkan.

Penelitian ini berangkat dari legenda Kazakh yang menyebut jasad Jochi, putra sulung Genghis Khan, dimakamkan di wilayah Ulytau, Kazakhstan. Akan tetapi, analisis arkeologi menunjukkan kerangka di mausoleum itu bukan milik Jochi, melainkan individu elite dari era Golden Horde.

Meski demikian, justru dari situlah petunjuk genetik penting ditemukan. Tim peneliti mengekstraksi DNA kromosom Y, yakni DNA yang diwariskan dari ayah ke anak laki-laki, untuk melacak garis paternal dinasti Mongol.

Mengutip Live Science, hasil penanggalan karbon menunjukkan dua kerangka berasal dari periode 1286 hingga 1398, sehingga kecil kemungkinan merupakan anak langsung Genghis Khan. Namun analisis genetik memperlihatkan ketiganya memiliki garis keturunan ayah yang sama dan terhubung dengan klaster haplotipe C3*, yang sebelumnya diasosiasikan dengan sang penakluk Mongol.

Pada 2003, studi di American Journal of Human Genetics menyatakan bahwa klaster C3* yang muncul sekitar seribu tahun lalu di Mongolia menyebar luas di bekas wilayah Kekaisaran Mongol. Penelitian itu menyimpulkan sekitar 0,5 persen populasi pria dunia, atau satu dari 200, kemungkinan adalah keturunan Genghis Khan.

Namun kini, peneliti menemukan bahwa cabang C3* yang dimiliki elite Golden Horde merupakan subklaster yang jauh lebih langka di populasi modern. “Haplotipe kromosom Y yang mereka miliki termasuk dalam klaster C3* yang sebelumnya dihipotesiskan sebagai milik Genghis Khan, namun yang satu ini sangat jarang ditemukan pada populasi modern,” ujar Ayken Askapuli, antropolog biologis yang menjadi bagian dari tim peneliti studi genomik tersebut.

Lebih jauh, ia menegaskan kompleksitas struktur genetik klaster tersebut. “Klaster itu memiliki banyak cabang yang berbeda, dan para elite Golden Horde memiliki salah satu dari cabang-cabang tersebut,” katanya, menekankan bahwa asumsi penyebaran luas sebelumnya tidak mempertimbangkan percabangan detail dalam C3*.

Di sisi lain, ketiadaan sampel DNA langsung dari Genghis Khan menjadi kendala utama verifikasi ilmiah. “Tidak seorang pun mengetahui secara pasti seperti apa profil DNA kromosom Y miliknya,” kata Askapuli, seraya menambahkan bahwa bahkan DNA dari putra dan cucunya pun belum pernah diidentifikasi secara pasti.

Selain itu, analisis genom menunjukkan individu-individu Golden Horde memiliki akar kuat dari populasi Ancient Northeast Asian dengan kontribusi genetik bangsa Kipchak di Stepa Eurasia. Temuan ini memperlihatkan bahwa ekspansi Mongol juga merupakan proses percampuran biologis yang kompleks, bukan sekadar dominasi militer.

Dengan demikian, klaim populer tentang luasnya keturunan Genghis Khan kini menghadapi koreksi signifikan berbasis data genom mutakhir. Meski misteri makam sang pendiri Kekaisaran Mongol masih belum terpecahkan, arah penelitian genetika menunjukkan bahwa warisan biologisnya kemungkinan tidak sebesar legenda yang selama ini dipercaya.

Sebagai informasi, haplotipe C3* (C2b1a3a1-F3796) sangat terkenal karena dikaitkan dengan kluster bintang (star cluster) yang dihipotesiskan sebagai garis keturunan langsung Genghis Khan, yang tersebar luas di Eurasia. 

KEYWORD :

Keturunan Genghis Khan Legenda Kazakh Studi Genomik Kekaisaran Mongol




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :