Senin, 23/02/2026 20:25 WIB

Asal Usul Ngabuburit dalam Tradisi Ramadan di Indonesia





Ngabuburit menjadi tradisi khas masyarakat Indonesia saat menunggu azan magrib.

Ilustrasi ngabuburi sembari berburu takjil (Foto: istimewa)

Jakarta, Jurnas.com - Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan berbagai kebiasaan khas masyarakat. Salah satu istilah yang paling sering terdengar selama bulan puasa ialah “ngabuburit”.

Kata tersebut digunakan untuk menyebut aktivitas menjelang waktu berbuka pada sore hari. Walaupun populer, tidak semua orang mengetahui asal-usul istilah itu.

Secara etimologis, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yakni ungkapan ngalantung ngadagoan burit yang bermakna menunggu datangnya senja sambil bersantai. Kata burit sendiri berarti waktu sore atau menjelang malam.

Penggunaannya kemudian meluas dan tidak lagi hanya dikenal di kalangan masyarakat Sunda. Kini istilah ngabuburit dipakai hampir di seluruh Indonesia dan menjadi bagian dari tradisi Ramadan.

Pada mulanya, ngabuburit diisi dengan kegiatan sederhana seperti duduk di rumah, berbincang bersama keluarga, atau membaca Al-Qur’an sambil menanti azan magrib.

Seiring perkembangan zaman, aktivitas tersebut berubah menjadi kegiatan sosial yang lebih beragam. Banyak orang memilih berjalan santai, berburu takjil di pasar Ramadan, hingga menghadiri kajian keagamaan di masjid.

Di sejumlah daerah, bentuk ngabuburit menyesuaikan tradisi lokal. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta misalnya, anak-anak kerap mengisinya dengan permainan tradisional.

Sementara di kawasan pesisir seperti Pantai Losari di Makassar, masyarakat menunggu waktu berbuka dengan bersantai menikmati pemandangan matahari terbenam.

Meski bentuknya semakin beragam, tujuan ngabuburit tetap sama, yakni mengisi waktu menjelang berbuka dengan kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.

KEYWORD :

ngabuburit ramadan arti ngabuburit tradisi ramadan indonesia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :