Senin, 23/02/2026 00:25 WIB

Negosiasi Nuklir AS-Iran Macet, Perundingan Dilanjut Maret





Iran dan Amerika Serikat menghadapi sejumlah perbedaan pandangan terkait pencabutan sanksi dalam perundingan nuklir.

Citra satelit pada 11 Desember 2020 oleh Maxar Technologies menunjukkan pembangunan fasilitas nuklir Iran di Fordo /Mayar Technologies via AP News

Teheran, Jurnas.com - Iran dan Amerika Serikat menghadapi sejumlah perbedaan pandangan terkait pencabutan sanksi dalam perundingan nuklir. Karena itu, negosiasi lanjutan bakal dilaksanakan kembali pada Maret mendatang.

Iran dan AS kembali membuka negosiasi awal bulan ini guna mengatasi sengketa puluhan tahun terkait program nuklir Teheran, sementara Washington memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.

Iran bahkan mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan tersebut jika diserang oleh pasukan Amerika.

"Putaran terakhir pembicaraan menunjukkan bahwa gagasan AS mengenai cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi berbeda dari tuntutan Iran. Kedua pihak perlu mencapai jadwal yang logis untuk penghapusan sanksi," ujar pejabat senior Iran yang bicara dengan syarat anonim kepada Reuters pada Minggu (22/2).

"Peta jalan ini harus masuk akal dan didasarkan pada kepentingan bersama," dia menambahkan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat lalu mengatakan pihaknya berharap dapat menyiapkan rancangan proposal tandingan dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas.

Meski menolak tuntutan AS untuk nol pengayaan uranium, Teheran memberi sinyal kesiapan untuk berkompromi terkait aktivitas nuklirnya. Sebab, Washington memandang pengayaan uranium di dalam negeri Iran sebagai jalur potensial menuju senjata nuklir. Iran membantah ingin memiliki senjata nuklir dan menuntut agar haknya untuk melakukan pengayaan uranium diakui untuk tujuan damai.

AS juga menuntut agar Iran melepaskan persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi (highly enriched uranium/HEU). Badan nuklir PBB tahun lalu memperkirakan stok tersebut mencapai lebih dari 440 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian hingga 60 persen, hanya selangkah lagi dari tingkat senjata.

Pejabat Iran itu mengatakan Teheran dapat secara serius mempertimbangkan kombinasi langkah, termasuk mengekspor sebagian stok HEU, menurunkan tingkat kemurnian uranium yang paling tinggi, serta membentuk konsorsium pengayaan regional. Sebagai imbalannya, Iran menuntut pengakuan atas haknya melakukan pengayaan nuklir untuk tujuan damai.

"Negosiasi terus berlangsung dan kemungkinan tercapainya kesepakatan sementara tetap ada," ujar dia.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa pemerintah Iran menyatakan solusi diplomatik akan memberikan manfaat ekonomi bagi Teheran maupun Washington.

"Dalam paket ekonomi yang sedang dinegosiasikan, Amerika Serikat juga ditawari peluang investasi serius serta kepentingan ekonomi nyata dalam industri minyak Iran," kata dia.

Namun, dia menegaskan Iran tidak akan menyerahkan kendali atas sumber daya minyak dan mineralnya.

KEYWORD :

Iran AS sanksi nuklir kesepakatan nuklir Iran pengayaan uranium Iran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :