Minggu, 22/02/2026 14:47 WIB

Rahasia Gigi Hitam Zaman Besi Terungkap dari Tengkorak Kuno Vietnam





Penelitian terbaru mengungkap bahwa masyarakat Vietnam kuno secara sengaja menghitamkan gigi mereka menggunakan senyawa berbasis besi

Ilustrasi - Tradisi gigi hitam mengkilap di Vietnam (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Selama berabad-abad, gigi hitam mengilap dianggap sebagai simbol kecantikan dan status di sejumlah wilayah Vietnam. Kini, temuan arkeologis menunjukkan praktik tersebut ternyata telah dilakukan sejak 2.000 tahun lalu, dan jejak kimianya masih tertinggal jelas pada tengkorak kuno.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Archaeological and Anthropological Sciences mengungkap bahwa masyarakat Vietnam kuno secara sengaja menghitamkan gigi mereka menggunakan senyawa berbasis besi. Bukti itu ditemukan pada kerangka dari situs arkeologi Dong Xa di Delta Sungai Merah, Vietnam utara.

Dikutip dari Live Science, permukiman di Dong Xa dihuni pada Zaman Besi, sekitar 550 SM hingga 50 M. Di area pemakamannya, para peneliti menemukan sejumlah tengkorak dengan warna enamel gigi yang tidak biasa, yakni hitam pekat dan merata.

Untuk memastikan apakah perubahan warna itu alami atau disengaja, tim peneliti melakukan analisis non-destruktif pada enamel gigi. Mereka menggunakan teknik X-ray fluorescence guna mengidentifikasi komposisi kimia, lalu memverifikasinya dengan scanning electron microscopy with energy dispersive spectrometry (SEM-EDS).

Hasilnya menunjukkan konsentrasi tinggi oksida besi pada bagian enamel yang menghitam. Selain unsur besi (Fe), para peneliti juga menemukan sulfur (S), kombinasi yang mengindikasikan penggunaan garam besi dalam proses pewarnaan.

Penulis utama studi, Yue Zhang dari Australian National University, menyatakan bahwa kombinasi besi dan sulfur merupakan penanda kuat praktik penghitaman gigi yang disengaja. Menurutnya, temuan ini menjadi penghubung pertama antara bukti arkeologis dan praktik tradisional yang masih bertahan hingga kini.

Dalam praktik modern di Asia Tenggara, penghitaman gigi biasanya melibatkan campuran zat berbasis besi dengan bahan nabati kaya tanin. Salah satu bahan yang kerap digunakan adalah buah pinang dari tanaman Areca catechu, yang telah dikunyah selama ribuan tahun di kawasan Pasifik dan Asia Tenggara.

Mengunyah pinang sendiri dapat meninggalkan noda merah kecokelatan pada gigi dan gusi. Namun ketika asam tanat dari tanaman bereaksi dengan garam besi dan terpapar udara, terbentuk warna hitam pekat yang permanen.

Berdasarkan analogi dengan praktik masa kini, para peneliti menduga proses penghitaman pada masa lalu berlangsung selama beberapa hari hingga minggu. Setelah warna hitam pekat tercapai, hasilnya bisa bertahan seumur hidup, dengan perawatan ulang setiap beberapa tahun untuk menjaga kilaunya.

Menariknya, praktik ini tidak sekadar estetika. Dalam berbagai kebudayaan Asia Tenggara, gigi hitam pernah menjadi simbol kedewasaan, identitas kelompok, hingga penanda status sosial.

Meski demikian, alasan awal kemunculan tradisi ini masih menjadi perdebatan. Salah satu hipotesis menyebut penghitaman gigi berkembang sebagai alternatif dari praktik pencabutan gigi sehat (tooth ablation), yang dilakukan sebagai ritual peralihan atau penanda identitas.

Hipotesis lain menyatakan penghitaman muncul untuk memperindah atau menyeragamkan noda akibat kebiasaan mengunyah pinang. Seiring berkembangnya teknologi logam pada Zaman Besi, ketersediaan peralatan besi kemungkinan mempermudah produksi pasta pewarna berbasis besi.

Apa pun motivasi awalnya, temuan di Dong Xa memperlihatkan bahwa interaksi kimia antara tanin dan garam besi telah dimanfaatkan manusia sejak dua milenium lalu. Lebih dari sekadar tren kecantikan, gigi hitam kuno Vietnam menunjukkan bagaimana budaya, teknologi, dan kimia berpadu dalam sejarah manusia. (*)

KEYWORD :

Gigi Hitam Vietnam Kuno Tradisi gigi hitam Zaman Besi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :