Ilustrasi rokok (Foto: Doknet)
Jakarta, Jurnas.com - Hampir 70 persen orang dengan skizofrenia diketahui merokok, angka yang mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan populasi umum.
Fakta ini memunculkan pertanyaan besar mengenai dorongan biologis terhadap nikotin pada penderita skizofrenia, atau rokok memberi efek penenang yang sulit digantikan oleh zat lain.
Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan kemungkinan keduanya berperan. Penderita skizofrenia diduga memperoleh efek tertentu dari nikotin yang terasa lebih menguntungkan dibandingkan orang tanpa gangguan tersebut.
Namun, hasil riset sebelumnya belum sepenuhnya komprehensif. Nikotin, seperti banyak zat lain, memiliki efek ganda, sebab bisa terasa membantu dalam jangka pendek, tetapi tetap membawa dampak negatif bagi kesehatan.
Tinjauan sistematis tahun 2025 mencoba mempersempit fokus pada dampak biologis spesifik merokok pada individu dengan gangguan spektrum skizofrenia (Schizophrenia Spectrum Disorders/SSD). Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan nyata dalam respons otak penderita SSD terhadap kebiasaan merokok.
Dikutip darri Psychology Today pada Sabtu (21/2), peneliti mengkaji 22 studi yang menggunakan berbagai metode untuk mengamati karakteristik biologis penderita SSD.
Metode yang dipakai antara lain fMRI untuk melihat aktivitas otak saat melakukan tugas tertentu, resting state fMRI untuk memantau aktivitas otak saat kondisi istirahat, serta MRI struktural guna mengukur volume wilayah otak—terutama materi abu-abu yang kerap menyusut pada penderita SSD.
Materi abu-abu berperan penting dalam fungsi kognitif, sehingga penyusutannya dapat memperparah gejala dan menurunkan kemampuan berpikir.
Hasil kajian menunjukkan bahwa penderita SSD yang merokok mengalami penurunan materi abu-abu secara signifikan. Penyusutan paling jelas terlihat pada korteks prefrontal yang mengatur fungsi berpikir tingkat tinggi, amigdala yang berperan dalam regulasi emosi, dan hipokampus yang terkait dengan memori.
Baik merokok maupun SSD secara terpisah sudah diketahui berkaitan dengan berkurangnya materi abu-abu; ketika keduanya terjadi bersamaan, dampaknya diduga menjadi lebih berat.
Meski demikian, temuan menarik juga muncul. Merokok tampaknya meningkatkan integrasi antara jaringan otak tertentu. Salah satu studi menemukan interaksi yang lebih kuat antara default mode network (DMN) dan sistem limbik pada partisipan yang merokok.
Ini menunjukkan kemungkinan bahwa nikotin memperbaiki konektivitas saraf yang lemah, baik pada penderita SSD maupun individu tanpa gangguan tersebut.
Beberapa penelitian lain menemukan pola saraf khas pada penderita SSD yang merokok. Pola ini mengindikasikan adanya kerentanan terhadap nikotin.
Penderita SSD tampak memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap sistem penghargaan (reward system), sementara jalur saraf yang biasanya memproses dampak negatif merokok justru melemah. Akibatnya, kepuasan jangka pendek terasa lebih kuat dibandingkan kesadaran terhadap risiko jangka panjang.
Secara umum, penderita SSD lebih rentan terhadap berbagai faktor yang mungkin tidak terlalu memengaruhi populasi umum. Nikotin tampaknya memiliki daya tarik neurokimia yang kuat, memberi rasa nyaman dan membantu regulasi emosi, namun tetap membawa risiko kerusakan otak dan masalah kesehatan jangka panjang.
Mengingat dampak merokok, termasuk meningkatnya risiko kanker paru-paru, para peneliti menilai penting untuk meneliti lebih lanjut efek spesifik nikotin pada penderita SSD. Harapannya, terapi baru dapat dikembangkan untuk menstimulasi jalur penghargaan di otak tanpa bergantung pada zat berbahaya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
kizofrenia dan merokok nikotin dan otak gangguan spektrum skizofrenia



























