Ilustrasi tumpukan sampah (foto: Doknet)
Jakarta, Jurnas.com - Tragedi akibat sampah tidak hanya terjadi di satu negara, melainkan menjadi fenomena global yang menimbulkan korban jiwa. Longsor dan ledakan di tempat pembuangan akhir (TPA) membuktikan bahwa sampah bisa menjadi ancaman serius bila tidak dikelola dengan baik.
Salah satu insiden paling terkenal terjadi di Indonesia, di TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005. Gunungan sampah setinggi 60 meter dan sepanjang 200 meter longsor menimpa dua kampung, yakni Kampung Cilimus dan Kampung Pojok, menewaskan 157 warga. Peristiwa ini menjadi dasar lahirnya Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), yang diperingati setiap 21 Februari untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah.
Tidak jauh berbeda, pada 10 Juli 2000, TPA Payatas di Filipina mengalami longsor sampah yang menewaskan lebih dari 200 orang. Insiden ini menjadi salah satu bencana TPA paling mematikan di dunia dan memperlihatkan risiko pengelolaan sampah yang tidak aman.
Di India, beberapa TPA di kota Mumbai dan Kolkata pernah mengalami ledakan dan longsor sampah yang menimbulkan puluhan korban jiwa. Sementara di Brasil, TPA Jardim Gramacho mencatat kematian pekerja akibat runtuhan sampah dan gas beracun, menyoroti risiko pekerja di lokasi pembuangan besar.
Haiti juga mencatat insiden serupa di Port-au-Prince, di mana longsor sampah menelan belasan nyawa. Tragedi ini menunjukkan bahwa negara berkembang dengan sistem pengelolaan sampah minim menghadapi risiko bencana yang nyata dan seringkali berulang.
Baru-baru ini, pada 8 Januari 2026, sebuah gunungan sampah di TPA Binaliw, Cebu City, Filipina, runtuh secara mendadak dan menimpa pekerja serta fasilitas di lokasi. Puluhan pekerja tewas dan puluhan lainnya luka atau hilang, memicu operasi pencarian besar-besaran. Otoritas setempat menghentikan operasi TPA untuk investigasi, menyoroti pentingnya standar keselamatan dan pengelolaan limbah yang ketat.
Secara ilmiah, longsor dan ledakan TPA sering terjadi akibat akumulasi gas metana (CH4) dari sampah organik yang membusuk. Jika gas terperangkap dalam volume besar, misalnya bercampur dengan sampah plastik, maka potensi ledakan meningkat. Hal ini menekankan pentingnya sistem pengelolaan sampah terintegrasi yang meliputi pemilahan, daur ulang, dan ventilasi yang baik.
Pelajaran dari keenam tragedi ini jelas bahwa sampah bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga ancaman keselamatan dan kesehatan publik. Kesadaran masyarakat, regulasi yang tegas, dan pengelolaan sampah yang benar menjadi kunci untuk mencegah bencana serupa di masa depan, baik di Indonesia maupun dunia. (*)
Sumber: Berbagai sumber
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Tragedi sampah mematikan Tumpukan sampah Tragedi TPA Leuwigajah























