Ilustrasi sampah plastik. (Foto: Doknet/Google)
Jakarta, Jurnas.com - Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) diperingati setiap 21 Februari sebagai pengingat tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Kota Cimahi, pada 21 Februari 2005. Bencana tersebut merenggut 157 jiwa dan menjadi titik balik kesadaran nasional akan bahaya pengelolaan sampah yang buruk.
Peristiwa itu terjadi akibat curah hujan tinggi yang memicu longsoran besar, diperparah ledakan gas metana dari tumpukan sampah yang menggunung. Tragedi tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu bencana lingkungan terparah di Indonesia, sekaligus alarm keras bahwa sampah dapat berubah menjadi ancaman mematikan.
Bertolak dari peristiwa itu, pemerintah menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Dikutip dari berbagai sumber, penetapan ini dimaksudkan untuk mengenang para korban sekaligus mendorong pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Breakup Day dan Cara Baru Memaknai Perpisahan
Sejak itu, HPSN menjadi momentum tahunan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya pengelolaan sampah terintegrasi, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga proses daur ulang. Peringatan ini juga menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
Pada 2026, HPSN memasuki peringatan ke-21 tahun tragedi Leuwigajah dengan mengusung tema “Kolaborasi untuk Indonesia Asri”. Tema tersebut menekankan bahwa kebersihan dan kelestarian lingkungan hanya dapat dicapai melalui gerakan bersama yang konsisten dan berkelanjutan.
Berbagai aksi digelar dalam rangkaian HPSN 2026 untuk menjaga Indonesia tetap bersih setiap hari, bukan sekadar pada momen peringatan. Kampanye ini diarahkan untuk membangun perubahan perilaku masyarakat agar lebih disiplin dalam mengurangi, memilah, dan mendaur ulang sampah.
Pengelolaan sampah yang tepat terbukti memberikan dampak langsung terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Selain mencegah banjir serta menjaga kualitas air, pengelolaan yang baik juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.
Di sisi lain, praktik pemilahan sampah organik dan nonorganik mendorong tumbuhnya ekonomi sirkular karena limbah dapat diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomis. Dengan demikian, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan mendaur ulang bukan hanya tindakan sederhana, tetapi fondasi penting bagi masa depan lingkungan yang berkelanjutan.
Refleksi atas tragedi Leuwigajah menjadi pengingat bahwa kelalaian dalam tata kelola sampah dapat berujung pada bencana kemanusiaan. Karena itu, Hari Peduli Sampah Nasional harus dimaknai sebagai komitmen kolektif untuk meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku demi Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan asri.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari HPSN 2026 Peringatan HPSN


























