Sabtu, 21/02/2026 10:53 WIB

Breakup Day dan Cara Baru Memaknai Perpisahan





Fenomena Breakup Day awalnya berkembang dari budaya internet, bukan peringatan resmi.

Ilustrasi - Fenomena Breakup Day awalnya berkembang dari budaya internet, bukan peringatan resmi (Foto: Jeremy Malecki/Unsplash)

Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 21 Februari tidak hanya diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Di kalangan pengguna media sosial, terutama generasi muda, hari ini juga populer sebagai Breakup Day, penutup rangkaian `Anti-Valentine Week` yang kerap ramai diperbincangkan setiap tahun.

Berbeda dengan suasana romantis yang identik dengan 14 Februari, pekan setelahnya justru dipenuhi konten bernuansa satir dan humor. Mulai dari meme patah hati, curhatan, hingga video refleksi hubungan bermunculan di berbagai platform.

Banyak warganet menjadikan momen ini sebagai simbol keberanian mengakhiri hubungan yang dianggap tidak lagi sehat.

Fenomena Breakup Day awalnya berkembang dari budaya internet, bukan peringatan resmi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya meningkat karena dianggap mewakili realitas relasi modern.

Hubungan tidak lagi selalu dipertahankan demi status, melainkan lebih menekankan kenyamanan emosional dan kesehatan mental.

Menariknya, unggahan pada hari tersebut tidak selalu bernada sedih. Sebagian orang justru menampilkan pendekatan lebih ringan, yakni membagikan daftar pelajaran hidup, pengalaman bangkit setelah putus cinta, hingga aktivitas baru seperti olahraga, bepergian, atau mengejar hobi yang sempat tertunda. Narasi `move on` menjadi tema dominan.

Psikolog melihat tren ini sebagai tanda perubahan cara generasi muda memandang hubungan. Putus cinta tidak lagi selalu dianggap kegagalan, melainkan proses evaluasi diri.

Dengan berbagi cerita di media sosial, banyak orang merasa memperoleh dukungan emosional dari komunitas digital yang mengalami hal serupa.

Meski begitu, para ahli tetap mengingatkan agar keputusan mengakhiri hubungan tidak diambil secara impulsif hanya karena tren. Relasi tetap membutuhkan komunikasi dan refleksi matang, bukan sekadar mengikuti momentum viral.

Pada akhirnya, Breakup Day lebih dari sekadar candaan internet. Ia menjadi cerminan bagaimana masyarakat digital memaknai hubungan, tidak hanya tentang bersama, tetapi juga tentang keberanian berpisah dengan cara sehat dan melanjutkan hidup dengan lebih baik.

KEYWORD :

Media Sosial Breakup Day budaya internet 21 Februari




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :