Jum'at, 20/02/2026 22:46 WIB

Perang Badar 17 Ramadan, Kisah 313 Pasukan Muslim Menaklukkan 1.000 Quraisy





Secara militer, kekuatan kedua kubu tak seimbang karena pasukan Muslim hanya berjumlah sekitar 313 orang, sementara Quraisy lebih dari 1.000 prajurit bersenjata

Ilustrasi Perang Badar (Foto: Hijrahtime via Gen Muslim)

Jakarta, Jurnas.com - Perang Badar menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam yang terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi. Pertempuran ini berlangsung di wilayah Badar, sekitar 130 kilometer dari Madinah, mempertemukan kaum Muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW dengan pasukan Quraisy Makkah yang dipimpin Abu Jahal.

Dikutip dari berbagai sumber, peristiwa ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan akumulasi penindasan panjang terhadap umat Islam di Makkah. Pengusiran, perampasan harta, serta intimidasi yang terus berlanjut bahkan setelah hijrah ke Madinah menjadi pemicu utama konflik terbuka tersebut.

Selain itu, ketegangan meningkat ketika kaum Muslimin berupaya menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Namun perubahan rute kafilah justru berujung pada konfrontasi langsung dengan pasukan utama Quraisy yang bergerak menuju Badar.

Secara militer, kekuatan kedua kubu tidak seimbang karena pasukan Muslim hanya berjumlah sekitar 313 orang, sementara Quraisy lebih dari 1.000 prajurit bersenjata lengkap. Meski demikian, sebelum pertempuran dimulai, Nabi Muhammad SAW memanjatkan doa memohon pertolongan Allah sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Anfal ayat 9–10 tentang turunnya bantuan malaikat.

Pertempuran diawali dengan duel satu lawan satu yang mempertemukan tiga pejuang Muslim, yakni Hamzah bin Abdul Muttalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Al-Harith, melawan tiga tokoh Quraisy. Kemenangan kaum Muslimin dalam duel pembuka itu mengguncang moral pasukan lawan sebelum pertempuran besar pecah.

Selanjutnya, strategi menjadi faktor penentu ketika seorang sahabat, Al-Khubab bin al-Mundzir, mengusulkan agar pasukan menguasai sumber air Badar. Usulan itu diterima setelah dipastikan bukan bagian dari wahyu, menunjukkan praktik musyawarah dalam kepemimpinan Rasulullah.

Dengan mengendalikan sumber air, posisi kaum Muslimin menjadi lebih menguntungkan sementara Quraisy menghadapi tekanan logistik. Situasi tersebut mempercepat melemahnya barisan lawan di tengah pertempuran yang berlangsung sengit.

Pada akhirnya, pertempuran berakhir dengan kemenangan telak kaum Muslimin setelah sekitar 70 pasukan Quraisy tewas dan 70 lainnya ditawan. Di antara yang terbunuh adalah Abu Jahal, sementara dari pihak Muslim tercatat 14 orang gugur sebagai syuhada.

Kemenangan di Badar kemudian mengubah peta politik Jazirah Arab dan mengangkat posisi Madinah sebagai kekuatan baru yang diperhitungkan. Lebih jauh, peristiwa yang dikenal sebagai Ghazwah Badr al-Kubra ini menandai fase kebangkitan Islam dari komunitas tertindas menjadi entitas yang memiliki daya tawar politik dan militer. (*)

KEYWORD :

Perang Badar Pasukan Muslim pasukan Quraisy Sejarah Islam Bulan Ramadan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :