Seorang tentara Rusia mengendarai kendaraan tempur infanteri, di Latakia, pantai Suriah, 14 Desember 2024. REUTERS
Nairobi, Jurnas.com - Lebih dari 1.000 warga Kenya direkrut untuk bertempur di pihak Rusia dalam perang di Ukraina, menurut laporan intelijen Kenya yang disampaikan kepada parlemen pekan ini. Jumlah tersebut lima kali lebih besar dari perkiraan resmi sebelumnya.
Kedutaan Besar Rusia di Nairobi membantah keterlibatan Moskow dalam perekrutan ilegal warga Kenya untuk berperang di Ukraina. Namun, pihak kedutaan menyatakan bahwa warga negara asing diperbolehkan secara sukarela bergabung dengan angkatan bersenjata Rusia.
Dalam laporan National Intelligence Service (NIS) Kenya, Pemimpin Mayoritas Parlemen Kimani Ichung`wah mengungkap adanya jaringan oknum pejabat negara yang diduga berkolusi dengan sindikat perdagangan manusia untuk merekrut warga Kenya dalam perang Rusia-Ukraina.
Para perekrut menyasar mantan tentara dan polisi, serta warga menganggur, dengan iming-iming gaji sekitar 350.000 shilling (Rp45,8 juta) per bulan serta bonus hingga 1,2 juta shilling (Rp157 juta).
"Sejauh ini lebih dari 1.000 warga Kenya telah direkrut dan diberangkatkan untuk bertempur dalam perang Rusia-Ukraina," kata Ichung’wah dikutip dari Reuters pada Kamis (19/2).
Pada November lalu, Kenya menyatakan lebih dari 200 warganya bertempur untuk Rusia di Ukraina. Pada bulan yang sama, Ukraina mengatakan sekitar 1.400 warga dari tiga lusin negara Afrika bertempur bersama pasukan Rusia di wilayahnya, sebagian direkrut melalui penipuan.
Menurut laporan terbaru, per Februari 2026 terdapat 89 warga Kenya berada di garis depan Ukraina, 39 dirawat di rumah sakit, dan 28 dinyatakan hilang dalam tugas.
Laporan menyebut para rekrutan awalnya meninggalkan Kenya menggunakan visa turis dan bepergian ke Rusia melalui Turki atau Uni Emirat Arab. Setelah pengawasan diperketat di Bandara Nairobi, jalur perjalanan dialihkan melalui Uganda, Afrika Selatan, dan Republik Demokratik Kongo.
Agen perekrutan diduga bekerja sama dengan oknum staf bandara Kenya, pejabat imigrasi, serta sejumlah pejabat negara lainnya. Laporan itu juga menuding adanya keterlibatan staf Kedutaan Besar Rusia di Nairobi dan Kedutaan Kenya di Moskow dalam memfasilitasi perjalanan para rekrutan. Tuduhan ini dibantah.
"Pemerintah Rusia tidak pernah terlibat dalam perekrutan ilegal warga Kenya ke dalam Angkatan Bersenjata Federasi Rusia," demikian pernyataan resmi kedutaan.
Kedutaan juga menyebut tidak pernah menerbitkan visa bagi warga Kenya yang menyatakan tujuan perjalanan mereka untuk mengikuti Operasi Militer Khusus di Ukraina. Namun, di bawah hukum Rusia, warga negara asing dapat mendaftar secara sukarela dalam militernya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
tentara bayaran Kenya perang Rusia Ukraina laporan intelijen Kenya



















