Kamis, 19/02/2026 20:59 WIB

Kementan: Nilai Ekspor Sawit Tertinggi, Lebih Besar daripada Migas





Komoditas kelapa sawit masih menjadi penyumbang pendapatan ekspor terbesar Indoneia, melebihi sektor manapun termasuk minyak dan gas (migas).

Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Komoditas kelapa sawit masih menjadi penyumbang pendapatan ekspor terbesar Indoneia, melebihi sektor manapun termasuk minyak dan gas (migas). Selain itu, berbagai produk turunannya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Demikian disampaikan Ketua Bidang Budidaya Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Togu Rudian Saragih, dalam kegiatan `Workshop Media, UKMK, dan Promosi Sawit Baik 2026` di Depok pada Kamis (19/2).

Karena itu, lanjut Saragih, Indonesia patut bangga memiliki lahan kelapa sawit yang cukup besar. Sebab, keunggulan ini kerap kali membuat Eropa iri lalu menciptakan narasi negatif tentang sawit.

"Lahan kelapa sawit kita sangat luas. Luasnya 16,83 juta hektare di mana 41 persen di antaranya perkebunan rakyat dengan produksi 45,4 juta ton. Sementara ekspor kelapa sawit terhitung paling tinggi sebesar USD$22,85 miliar, tertinggi dibandingkan migas," kata Saragih.

"Keberadaan sawit juga menyerap 4,2 juta lapangan kerja langsung dan 12 juta lapangan kerja tidak langsung," dia menambahkan.

Kendati demikian, lanjut Saragih, produktivitas sawit di Indonesia belum optimal. Saat ini, Indonesia hanya mampu menghasilkan 3,8 ton per hektare per tahun. Karena itu, pemerintah mendorong peremajaan sawit rakyat guna mencapai target 5-6 ton per hektare per tahun.

Saragih juga mengajak masyarakat lebih cerdas dalam mengonsumsi informasi yang kerap mengambinghitamkan sawit dalam setiap bencana alam. Menurut dia, setiap perusahaan perkebunan sawit wajib melalui proses perizinan ketat sebelum beroperasi.

"Mengenai AMDAL juga dinilai oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Sebelum menerima izin, mereka harus memiliki perizinan dasar. Mengenai tanah yang digunakan harus dari Kementerian ATR/BPN. Artinya, kalau itu tidak ada, izin usaha perkebunan tidak bisa terbit," ujar dia.

Hal senada disampaikan Kepala Divisi UKMK Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Helmi Muhansah. Dia mengatakan kelapa sawit menyumbang sekitar Rp2-3 triliun per bulan ke dalam pendapatan negara.

"Tapi dikembalikan lagi ke berbagai kegiatan terkait sawit. Ada namanya beasiswa sawit, diberikan kepada putra-putri bagi orang tuanya yang bekerja di sawit. Beasiswanya semua dicover bahkan dikasih uang saku," kata Helmi.

Ketua panitia sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Hortus Archipelago, Suharno, mengatakan workshop ini dirancang sebagai wadah untuk mendorong pemberdayaan dan peningkatan kapasitas pelaku UKMK berbasis komoditas perkebunan dan sebagai sarana promosi sawit baik.

Menurut dia, pemberdayaan usaha kecil menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem industri sawit nasional. "Ini bagian dari kampanye sawit baik. Sebab, sawit tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari. Kalau mandi pakai sabun, itu pakai sawit. Hampir semuanya menggunakan produk-produk sawit," ujar Suharno.

KEYWORD :

Ekspor Kelapa Sawit Produktivitas Sawit Indonesia Toru Rudian Saragih




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :