Ilustrasi ikan tak berahang purba dari kelompok myllokunmingiid - nenek moyang vetebrata bermata empat (Foto: via Live Science)
Jakarata, Jurnas.com - Fosil berusia sekitar 518 juta tahun dari China mengungkap fakta mengejutkan tentang asal-usul vertebrata yang memiliki empat mata. Temuan ini membuka perspektif baru tentang evolusi sistem penglihatan pada masa awal kehidupan kompleks di Bumi.
Penelitian tersebut menyoroti ikan tak berahang purba dari kelompok myllokunmingiid yang hidup pada periode Kambrium, sekitar 541 hingga 485 juta tahun lalu. Pada masa itu, lautan mulai dipenuhi predator besar sehingga organisme kecil bertubuh lunak menghadapi tekanan evolusi yang intens.
Dalam konteks lingkungan yang berbahaya tersebut, empat mata diduga memberi keuntungan adaptif berupa bidang pandang yang lebih luas untuk mendeteksi ancaman. “Ini mengubah cara kita memahami evolusi awal vertebrata,” kata Jakob Vinther, peneliti makroevolusi dari University of Bristol dikutip Live Science, Kamis (19/2).
Lebih jauh, fosil luar biasa ini ditemukan di situs Chengjiang, China selatan, salah satu deposit Kambrium paling penting di dunia. Spesies yang dianalisis antara lain Haikouichthys ercaicunensis serta satu spesies myllokunmingiid yang belum dinamai secara resmi.
Analisis menunjukkan masing-masing hewan memiliki dua mata besar di sisi kepala dan dua mata kecil di bagian tengah. Bagian tubuh lunak seperti mata jarang terawetkan, sehingga penemuan empat struktur visual sekaligus tergolong sangat langka dalam catatan fosil.
Untuk memastikan temuan tersebut, tim menggunakan mikroskop berkekuatan tinggi dan analisis kimia guna meneliti struktur jaringan yang tersisa. “Kami terkejut menemukan dua mata kecil yang sepenuhnya fungsional di antara mata besar,” ujar Peiyun Cong dari Yunnan University.
Yang mengejutkan, dua mata kecil itu bukan sekadar sensor cahaya, melainkan memiliki pigmen penyerap cahaya dan lensa yang mampu membentuk gambar. Dengan demikian, sistem visual vertebrata awal ternyata sudah berkembang lebih kompleks dari perkiraan sebelumnya.
Penemuan ini kemudian mengarah pada hipotesis bahwa sepasang mata kecil tersebut merupakan cikal bakal organ pineal pada vertebrata modern. Pada beberapa ikan, reptil, dan amfibi saat ini, masih terdapat mata parietal atau “mata ketiga” yang berfungsi mendeteksi cahaya.
Namun pada manusia, organ tersebut telah berevolusi menjadi kelenjar pineal di dalam otak yang memproduksi hormon melatonin untuk mengatur siklus tidur. Artinya, struktur yang dahulu membantu leluhur kita menghindari predator kini berperan menjaga ritme biologis harian. (*)
Sumber: Via Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Ikan myllokunmingiid Leluhur Vertebrata Hewan Bermata Empat






















