Rabu, 18/02/2026 17:44 WIB

Banyak Pria Kehilangan Kromosom Y, Apa Penyebab dan Dampaknya?





Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kehilangan kromosom Y (loss of Y/LOY) meningkat tajam seiring pertambahan usia

Ilustrasi kromosom Y pada pria (Foto: NewsBytes)

Jakarta, Jurnas.com - Seiring bertambahnya usia, banyak pria kehilangan kromosom Y di sebagian sel tubuhnya. Fenomena yang dulu dianggap tidak berdampak besar ini kini dikaitkan dengan berbagai penyakit serius, mulai dari gangguan jantung, penyakit ginjal, kanker, hingga gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan kehilangan kromosom Y dapat berkontribusi pada usia harapan hidup pria yang lebih pendek dibanding perempuan.

Kehilangan Kromosom Y Meningkat Tajam di Usia Lanjut

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kehilangan kromosom Y (loss of Y/LOY) meningkat tajam seiring pertambahan usia. Sekitar 40% pria berusia 60 tahun mengalami kehilangan kromosom Y pada sebagian sel tubuhnya. Angka ini melonjak menjadi 57% pada pria berusia 90 tahun.

Faktor lingkungan seperti merokok dan paparan zat karsinogenik turut meningkatkan risiko kehilangan ini. LOY tidak terjadi pada seluruh sel, melainkan hanya sebagian. Akibatnya, tubuh menjadi “mosaik” , terdiri dari sel yang memiliki kromosom Y dan sel yang tidak. Menariknya, sel tanpa kromosom Y dalam kultur laboratorium justru tumbuh lebih cepat, mengindikasikan kemungkinan keunggulan pertumbuhan, termasuk dalam konteks tumor.

Secara biologis, kromosom Y memang rentan mengalami kesalahan saat pembelahan sel. Dalam proses tersebut, kromosom Y dapat tertinggal dan terperangkap dalam struktur membran kecil yang akhirnya hilang. Jaringan dengan tingkat pembelahan sel tinggi diduga lebih rentan mengalami kehilangan ini.

Mengapa Kehilangan Kromosom Y Berbahaya?

Kromosom Y manusia hanya mengandung sekitar 51 gen pengkode protein, jauh lebih sedikit dibanding ribuan gen pada kromosom lain. Gen-gen ini selama ini dikenal berperan dalam penentuan jenis kelamin dan fungsi sperma.

Namun, studi-studi terkini menunjukkan bahwa peran kromosom Y jauh melampaui reproduksi. Beberapa temuan penting, di antaranya menunjukkan kehilangan kromosom Y pada sel ginjal dikaitkan dengan penyakit ginjal. 

Studi besar di Jerman menemukan pria di atas 60 tahun dengan frekuensi LOY tinggi memiliki risiko serangan jantung lebih besar. LOY berhubungan dengan kematian akibat COVID-19, yang dapat membantu menjelaskan mengapa angka kematian pria lebih tinggi dibanding wanita.

Temuan penting lainnya, yakni pasien Alzheimer menunjukkan frekuensi LOY hingga 10 kali lebih tinggi. Selain itu, berbagai kanker pada pria juga dikaitkan dengan LOY, serta prognosis yang lebih buruk.

Fakta ini memperkuat dugaan bahwa kromosom Y memiliki peran penting dalam kesehatan sistemik, termasuk fungsi jantung dan sistem imun.

Apakah LOY Penyebab atau Akibat?

Pertanyaan krusial yang masih diteliti adalah: apakah kehilangan kromosom Y menyebabkan penyakit, atau justru penyakit yang memicu LOY?

Hubungan yang kuat tidak selalu berarti sebab-akibat. Misalnya, pada penyakit jantung atau ginjal, pembelahan sel yang cepat untuk memperbaiki jaringan mungkin meningkatkan peluang kesalahan pembelahan dan kehilangan Y.

Namun, ada bukti eksperimental yang mengarah pada hubungan kausal. Dalam satu studi pada tikus, transplantasi sel darah tanpa kromosom Y ke tikus yang telah diradiasi menyebabkan peningkatan gangguan terkait usia, termasuk penurunan fungsi jantung hingga gagal jantung.

Selain itu, pada sel kanker, kehilangan kromosom Y tampaknya secara langsung memengaruhi pertumbuhan dan tingkat keganasan tumor. Pada melanoma mata, misalnya, penyakit ini lebih sering terjadi pada pria, dan LOY diduga menjadi faktor pendorong.

Peran Gen di Kromosom Y

Walau kecil, kromosom Y menyimpan gen-gen penting. Salah satunya adalah gen SRY, penentu jenis kelamin pria. Gen ini diekspresikan luas di tubuh, termasuk di otak, dan dikaitkan dengan risiko penyakit Parkinson.

Empat gen lain berperan dalam produksi sperma dan aktif di testis. Namun dari 46 gen lainnya, beberapa diekspresikan luas di berbagai jaringan tubuh dan berfungsi dalam regulasi aktivitas gen serta pengendalian pertumbuhan sel. Beberapa di antaranya berperan sebagai penekan tumor (tumor suppressor).

Menariknya, gen-gen ini memiliki pasangan di kromosom X. Artinya, pria dan wanita normalnya memiliki dua salinan gen tersebut. Ketika sel pria kehilangan kromosom Y, ia kehilangan satu salinan penting, yang dapat memicu gangguan regulasi gen.

Selain gen pengkode protein, kromosom Y juga mengandung banyak gen non-coding yang menghasilkan molekul RNA pengatur. Molekul-molekul ini diduga mengontrol ekspresi gen pada kromosom lain, sehingga kehilangan Y bisa berdampak luas pada sistem genetik sel.

Penelitian menunjukkan LOY memengaruhi ekspresi gen pada sel pembentuk darah dan sel imun, yang pada akhirnya dapat mengganggu fungsi jantung serta respons imun tubuh.

Misteri Evolusi Kromosom Y

Secara evolusioner, kromosom Y memang unik. Selama sekitar 150 juta tahun, kromosom ini terus mengalami degradasi dan bahkan telah hilang atau digantikan pada beberapa spesies hewan pengerat. Pada beberapa marsupial, kromosom Y bahkan dibuang di awal perkembangan.

Fakta ini sempat menimbulkan anggapan bahwa kehilangan Y pada pria lanjut usia bukanlah masalah besar. Namun temuan klinis terbaru justru menunjukkan sebaliknya.

Perlu dicatat, DNA lengkap kromosom Y manusia baru sepenuhnya dipetakan beberapa tahun lalu. Dengan kemajuan teknologi genomik, ilmuwan kini memiliki peluang lebih besar untuk mengidentifikasi gen spesifik mana yang berperan dalam peningkatan risiko penyakit akibat LOY.

Implikasi Kesehatan Publik

Temuan ini membuka peluang penting dalam deteksi dini risiko penyakit pada pria lanjut usia. Pemeriksaan frekuensi kehilangan kromosom Y di masa depan berpotensi menjadi biomarker untuk risiko penyakit jantung, kanker, atau gangguan neurodegeneratif.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa masih diperlukan studi lanjutan untuk memastikan mekanisme biologis yang mendasari hubungan ini.

Penelitian ini menggaris bawahi bahwa kromosom Y bukan sekadar penentu jenis kelamin. Ia mungkin memainkan peran vital dalam menjaga kesehatan pria sepanjang hidupnya, dan kehilangannya bisa menjadi faktor penting yang menjelaskan mengapa pria, secara rata-rata, memiliki harapan hidup lebih pendek dibanding wanita. (*)

Sumber: The Conversation via Live Science

KEYWORD :

Kehilangan kromosom Y Pria lanjut usia Loss of Y




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :