Masjid Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga dalam Islam. Lebih dari 60.000 jemaah salat di Al-Aqsa, Rabu (10/4/2024). (FOTO: REUTERS)
Yerussalem, Jurnas.com - Polisi Israel akan mengerahkan pasukan dalam jumlah besar di sekitar Masjid Al-Aqsa selama bulan suci Ramadan yang dimulai pada pertengahan pekan ini.
Selama Ramadan, ratusan ribu warga Palestina biasanya menghadiri salat di Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam yang terletak di Yerusalem Timur. Wilayah ini direbut Israel pada 1967 dan kemudian dianeksasi.
Arad Braverman, pejabat senior kepolisian Yerusalem, mengatakan pasukan akan ditempatkan siang dan malam di seluruh area kompleks, yang oleh Yahudi dikenal sebagai Temple Mount, serta di kawasan sekitarnya.
Dia menambahkan bahwa ribuan polisi juga akan bertugas setiap salat Jumat, yang biasanya menjadi waktu dengan jumlah jemaah Muslim paling besar, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Selasa (17/2).
Braverman menyebut polisi merekomendasikan penerbitan 10.000 izin bagi warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki, karena mereka memerlukan izin khusus untuk memasuki Yerusalem.
Namun dia tidak menjelaskan apakah akan ada batasan usia, dan mengatakan jumlah akhir izin akan ditentukan pemerintah.
Gubernur Yerusalem dalam pernyataan terpisah mengatakan mereka mendapat informasi bahwa izin kembali dibatasi hanya untuk pria di atas 55 tahun dan perempuan di atas 50 tahun, sama seperti kriteria tahun lalu.
Pernyataan itu juga menuding otoritas Israel menghalangi Waqf Islam, lembaga Yordania yang mengelola situs tersebut, untuk melakukan persiapan rutin seperti memasang tenda peneduh dan mendirikan klinik medis sementara.
Sumber Waqf membenarkan adanya pembatasan itu dan mengatakan 33 pegawainya dilarang memasuki kompleks dalam sepekan menjelang Ramadan.
Kompleks Al-Aqsa merupakan simbol utama identitas Palestina dan kerap menjadi titik ketegangan.
Dalam pengaturan yang sudah lama berlaku, warga Yahudi boleh mengunjungi kompleks tersebut, yang mereka yakini sebagai lokasi Bait Suci kedua yang dihancurkan Romawi pada tahun 70 M, tetapi mereka tidak diizinkan berdoa di sana.
Israel menyatakan berkomitmen mempertahankan status quo ini, meskipun warga Palestina khawatir aturan tersebut perlahan terkikis. Braverman kembali menegaskan bahwa tidak ada perubahan kebijakan yang direncanakan.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak ultranasionalis Yahudi menentang larangan doa tersebut, termasuk politikus sayap kanan Itamar Ben-Gvir, yang sempat berdoa di lokasi itu saat menjabat menteri keamanan nasional pada 2024 dan 2025.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
polisi Israel Al-Aqsa Ramadan pembatasan izin Palestina Yerusalem ketegangan Masjid Al-Aqsa


























