Ilustrasi - sihir (Foto: commonswikimedia)
Jakarta, Jurnas.com - Fenomena retaknya rumah tangga kerap dipahami semata-mata sebagai akibat persoalan komunikasi atau tekanan ekonomi.
Namun dalam ajaran Islam dikenal pula faktor non-fisik yang tidak terlihat, yaitu sihir. Al-Qur’an menegaskan keberadaan sihir dan dampaknya terhadap hubungan keluarga. Allah SWT berfirman:
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
Artinya: “Maka mereka mempelajari dari keduanya apa yang dapat memisahkan antara seorang (suami) dan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa sihir merupakan ujian yang nyata, yang dapat merusak keharmonisan keluarga jika iman tidak dijaga.
Gangguan semacam ini sering ditandai perubahan sikap yang tidak wajar, munculnya kebencian tanpa sebab, pertengkaran terus-menerus, bahkan hilangnya rasa kasih sayang.
Meski demikian, Islam tidak membenarkan seseorang langsung menuduh adanya sihir. Seorang muslim dianjurkan bersikap hati-hati: tidak mudah menuduh, namun juga tidak menolak kemungkinan gangguan gaib.
Rasulullah SAW sendiri pernah mengalami sihir sebagai bentuk ujian, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Syariat juga menegaskan larangan keras praktik sihir. Rasulullah SAW bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ
قالوا: وما هن يا رسول الله؟ قال:
الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ...
Artinya: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah dan sihir…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, Islam tidak mengajarkan melawan sihir dengan sihir, melainkan dengan memperkuat tauhid dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Al-Qur`an juga memberikan amalan perlindungan. Membaca Al-Fatihah, Ayat Kursi, serta surat Al-Falaq dan An-Nas menjadi benteng spiritual bagi keluarga. Allah berfirman:
اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ…
Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)…” (QS. Al-Baqarah: 255 – Ayat Kursi)
Kemudian dalam surat Al-Falaq:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ • مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
Artinya: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya.”
Dan dalam surat An-Nas:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ • مَلِكِ النَّاسِ • إِلٰهِ النَّاسِ • مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
Artinya: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi.”
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa rumah yang dihidupkan dengan bacaan Al-Qur’an akan dijauhkan dari gangguan setan.
Selain membaca ayat-ayat perlindungan, menjaga shalat, memperbanyak dzikir, serta memperkuat keimanan dalam keluarga menjadi kunci ketenangan rumah tangga.
Sihir tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin Allah, sehingga seorang mukmin tidak perlu tenggelam dalam ketakutan, melainkan meningkatkan tawakal.
Dengan demikian, ujian rumah tangga mengingatkan pentingnya tauhid. Keharmonisan keluarga bukan hanya dibangun oleh cinta dan komunikasi, tetapi juga oleh doa, dzikir, dan keyakinan bahwa Allah adalah pelindung terbaik bagi setiap rumah tangga muslim.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Ilmu Sihir Rasulullah SAW Rumah Tangga Ilmu Hitam

























