Minggu, 15/02/2026 21:17 WIB

Inggris Pertimbangkan Tambahan Sanksi ke Rusia usai Temuan Racun Navalny





Inggris menyatakan akan mempertimbangkan peningkatan sanksi terhadap Rusia, setelah lima negara Eropa menyimpulkan bahwa Navalny tewas akibat diracun

Seseorang memberi isyarat di depan potret pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny di depan kedutaan Rusia setelah kematian Navalny, di Kappara, Malta, 19 Februari 2024. Foto: Reuters

London, Jurnas.com - Inggris menyatakan akan mempertimbangkan peningkatan sanksi terhadap Rusia, setelah lima negara Eropa menyimpulkan bahwa pemimpin oposisi Alexei Navalny tewas akibat racun katak dart saat berada di penjara Rusia.

"Kami terus melihat langkah terkoordinasi, termasuk meningkatkan sanksi terhadap rezim Rusia," ujar Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper dikutip dari The Straits Times pada Minggu (15/2).

Navalny, pengkritik keras Presiden Vladimir Putin, meninggal dalam kondisi misterius di penjara Rusia pada 16 Februari 2024 saat menjalani hukuman 19 tahun.

Kelima negara Eropa pada Sabtu (14/2) menyatakan bahwa analisis laboratorium terhadap sampel dari tubuh Navalny menemukan racun mematikan bernama epibatidine, yang terdapat pada katak dart asal Ekuador. Cooper mengatakan bahwa racun tersebut juga dapat diproduksi secara sintetis.

"Rusia mengklaim Navalny meninggal karena penyebab alami. Namun mengingat tingkat racun epibatidine dan gejala yang dilaporkan, peracunan sangat mungkin menjadi penyebab kematiannya," kata lima negara Eropa dalam pernyataan bersama.

Kementerian Luar Negeri Inggris secara terpisah menyatakan bahwa hanya negara Rusia yang memiliki kemampuan, motif, dan kesempatan untuk menggunakan racun mematikan ini.

“Kami menganggap Rusia bertanggung jawab atas kematiannya," ujar kelima negara.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memuji keberanian Navalny dalam menghadapi tirani melalui unggahan media sosial, sambil mengecam niat membunuh Putin.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia serta Kedutaan Besar Moskow di London menolak laporan Barat tersebut.

Kremlin tidak pernah memberikan penjelasan penuh mengenai kematian Navalny, hanya menyebut ia jatuh sakit dan meninggal mendadak setelah berjalan-jalan di koloni penjara.

Putin pada 2024 hanya mengatakan bahwa Navalny telah meninggal dunia. Tokoh oposisi itu wafat tidak lama sebelum pemilihan presiden di Rusia digelar.

Adapun istri Navalny, Yulia Navalnaya, mengatakan kini sudah terbukti secara ilmiah bahwa lawan Kremlin tersebut dibunuh, dua tahun setelah kematiannya diumumkan dalam konferensi tahunan yang sama di Jerman.

Navalnaya pada September lalu menyatakan bahwa analisis laboratorium terhadap sampel biologis yang diselundupkan menunjukkan suaminya tewas akibat diracun.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot juga menyampaikan penghormatan kepada Navalny setelah temuan tersebut.

Kasus Navalny kembali meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Rusia di Eropa. Ancaman tambahan sanksi menunjukkan bahwa isu hak asasi manusia dan dugaan penggunaan racun kimia masih menjadi titik panas dalam hubungan Rusia dengan negara-negara Barat.

KEYWORD :

sanksi Inggris ke Rusia kematian Navalny racun tuduhan Kremlin meracuni Navalny




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :