Minggu, 15/02/2026 00:11 WIB

Gaza Krisis Listrik, Nyawa Pasien ICU di RS Al-Aqsa Terancam





Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.700 pekerja layanan kesehatan, termasuk dokter, perawat, dan paramedis, telah tewas sejak perang dimulai.

Pasien ICU di rumah sakit di Gaza, Palestina (Foto: Aljazeera)

Yerussalem, Jurnas.com - Perang Israel yang telah berlangsung lebih dari dua tahun menghancurkan sistem kesehatan Gaza. Tenaga medis kini berjuang merawat pasien dengan peralatan yang terbatas dan banyak yang rusak.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.700 pekerja layanan kesehatan, termasuk dokter, perawat, dan paramedis, telah tewas sejak perang dimulai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menuduh Israel sengaja menargetkan fasilitas kesehatan Gaza dan membunuh tenaga medis untuk melumpuhkan sistem kesehatan wilayah yang terkepung tersebut.

Para dokter di Rumah Sakit Al-Aqsa, Gaza bagian tengah, meminta adanya intervensi mendesak karena dua generator utama rumah sakit itu sudah tidak berfungsi lagi.

Situasi ini sangat gawat, menurut laporan koresponden Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, saat melaporkan dari Gaza, sebagaimana dikutip pada Sabtu (14/2).

"Generator sekarang dipandang sebagai jantung dari setiap rumah sakit di Gaza karena menghidupkan ventilator, inkubator, ruang operasi, hingga mesin dialisis," ujar dia.

"Namun kini sumber kehidupan itu mulai runtuh," Abu Azzoum menambahkan. Dia menyebut nyawa banyak pasien kritis di unit perawatan intensif berada dalam kondisi terancam.

Abu Azzoum mengatakan saat ini rumah sakit kekurangan bahan bakar dan suku cadang penting untuk menjaga generator tetap berjalan. "Tanpa generator, sistem kesehatan bisa runtuh dengan sangat cepat," kata dia.

Dia memperingatkan bahwa dalam beberapa jam ke depan rumah sakit mungkin akan membatasi listrik secara ketat agar bangsal kritis bisa diprioritaskan. Krisis ini akan meluas jika tidak ada suku cadang atau bahan bakar yang bisa masuk ke Gaza.

Meski ada gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat sejak Oktober, Israel disebut terus melanggar kesepakatan setiap hari melalui serangan serta dengan tidak mengizinkan masuknya bantuan medis dan kemanusiaan sesuai jumlah yang disepakati.

Hampir 600 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata 10 Oktober saja.

Hal ini memperdalam kondisi darurat kesehatan yang disebut Kementerian Kesehatan Gaza sebagai krisis kritis dan berkelanjutan, dengan sebagian besar rumah sakit di wilayah itu tidak lagi beroperasi, obat-obatan menipis, dan kekurangan peralatan yang sangat parah.

Krisis juga diperburuk oleh kekurangan tenaga medis, karena Israel masih menahan 95 dokter dan pekerja kesehatan Palestina, termasuk 80 orang dari Gaza.

Secara keseluruhan, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan 171.000 lainnya terluka dalam serangan selama perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023.

Dalam situasi konflik berkepanjangan, kerusakan infrastruktur rumah sakit dan terbatasnya pasokan energi sering menjadi ancaman utama bagi pasien kritis. Organisasi kemanusiaan internasional berulang kali memperingatkan bahwa tanpa akses bantuan medis dan bahan bakar, layanan kesehatan di Gaza berada di ambang kehancuran total.

KEYWORD :

krisis rumah sakit Gaza pasien ICU Al-Aqsa perang Israel Gaza




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :