Potret politisi oposisi Rusia Alexei Navalny ditempatkan di tengah bunga di pemakaman Borisovskoe di Moskow, Rusia, 2 Maret 2024. REUTERS
London, Jurnas.com - Sejumlah negara Eropa menyatakan pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny diracuni oleh Kremlin menggunakan racun langka dan mematikan, yang berasal dari kulit katak panah beracun, pada Sabtu (14/2).
Kementerian Luar Negeri Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda menyebut hasil analisis sampel dari tubuh Navalny “secara meyakinkan mengonfirmasi adanya epibatidine.”
Mereka berpendapat bahwa zat ini merupakan neurotoksin dari katak dart di Amerika Selatan dan tidak ditemukan secara alami di Rusia.
“Rusia memiliki kemampuan, motif, dan kesempatan untuk memberikan racun ini," demikian pernyataan kelima negara tersebut. Mereka juga menyatakan akan melaporkan Rusia ke Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) karena dianggap melanggar Konvensi Senjata Kimia.
Pengumuman ini disampaikan ketika istri Navalny, Yulia Navalnaya, menghadiri Konferensi Keamanan Munich di Jerman menjelang peringatan dua tahun kematian Navalny.
Navalny dikenal sebagai tokoh yang gencar melawan korupsi pejabat dan memimpin demonstrasi besar anti-Kremlin, sekaligus menjadi musuh politik paling keras bagi Presiden Vladimir Putin. Dia tewas di koloni tahanan di kawasan Arktik pada 16 Februari 2024, saat menjalani hukuman 19 tahun yang diyakininya bermotif politik.
"Rusia melihat Navalny sebagai ancaman,” kata Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, dikutip dari Associated Press pada Jumat (14/2). Dia menilai bahwa penggunaan racun seperti ini menunjukkan alat keji yang dimiliki Rusia dan ketakutan besar terhadap oposisi politik.
Tahun lalu, istri Navalny mengatakan bahwa dua laboratorium independen menemukan suaminya diracuni sesaat sebelum meninggal. Navalnaya berulang kali menyalahkan Putin atas kematian Navalny, tuduhan yang dengan keras dibantah pejabat Rusia.
Diketahui, epibatidine memang ditemukan secara alami pada katak dart liar, tetapi juga bisa dibuat di laboratorium. Para ilmuwan Eropa menduga zat yang digunakan terhadap Navalny kemungkinan merupakan hasil sintetis. Racun ini bekerja mirip agen saraf, memicu sesak napas, kejang, penurunan detak jantung, hingga kematian.
Navalny sebelumnya juga pernah menjadi target peracunan pada 2020 menggunakan agen saraf, yang dia tuduhkan kepada Kremlin meski selalu dibantah. Setelah dirawat di Jerman, dia kembali ke Rusia dan langsung ditangkap, menjalani tiga tahun terakhir hidupnya dalam penjara.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
racun langka kematian Alexei Navalny racun epibatidine












