Sabtu, 14/02/2026 20:34 WIB

MSF Hentikan Layanan RS di Gaza, Diduga Ada Transfer Senjata





Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders menghentikan sejumlah aktivitas medis non-kritis di sebuah rumah sakit besar di Gaza selatan

Ilustrasi rumah sakit di Gaza, Palestina (Foto: Arab News)

Jakarta, Jurnas.com - Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders menghentikan sejumlah aktivitas medis non-kritis di sebuah rumah sakit besar di Gaza selatan, setelah muncul laporan adanya pria bersenjata di dalam fasilitas tersebut serta dugaan perpindahan senjata.

Dalam pernyataannya, MSF menyebut langkah ini menjadi pertama kalinya sebuah organisasi kemanusiaan internasional di Gaza secara terbuka melaporkan keberadaan pria bersenjata di rumah sakit atau kemungkinan penggunaan fasilitas medis untuk memindahkan senjata.

MSF mengatakan operasi non-esensial di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, ditangguhkan pada 20 Januari karena kekhawatiran terkait “pengelolaan struktur, perlindungan netralitas rumah sakit, serta pelanggaran keamanan.”

Dalam beberapa bulan terakhir, pasien dan staf MSF melaporkan telah melihat pria bersenjata, sebagian memakai penutup wajah, berada di sejumlah area dalam kompleks rumah sakit tersebut, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Sabtu (14/2).

Kementerian Dalam Negeri Gaza yang dikelola Hamas menyatakan komitmennya mencegah keberadaan senjata di dalam rumah sakit dan menegaskan akan mengambil tindakan hukum terhadap para pelanggar. Mereka mengisyaratkan bahwa anggota bersenjata dari beberapa keluarga di Gaza sempat memasuki rumah sakit, meski tidak menyebut pihak yang terlibat.

Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata pada Oktober sebagai bagian dari rencana Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Gaza. Namun, kedua pihak berulang kali saling menuduh melakukan pelanggaran.

Sejak gencatan senjata berlaku, MSF menyebut timnya menemukan pola tindakan yang dinilai tidak dapat diterima, termasuk keberadaan pria bersenjata, intimidasi, penangkapan pasien secara sewenang-wenang, hingga situasi terbaru berupa dugaan perpindahan senjata.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 590 warga Palestina telah tewas akibat serangan pasukan Israel sejak gencatan senjata dimulai. Sementara itu, kelompok militan Palestina disebut membunuh empat tentara Israel dalam periode yang sama.

MSF mengungkapkan penghentian layanan di RS Nasser ini dalam bagian “pertanyaan yang sering diajukan” di situs resminya terkait operasi mereka di Gaza, yang terakhir diperbarui pada 11 Februari.

MSF menegaskan para pria bersenjata itu terlihat di area rumah sakit tempat mereka tidak menjalankan kegiatan, tetapi keberadaan mereka, ditambah dugaan perpindahan senjata, tetap menimbulkan risiko besar bagi keselamatan pasien dan tenaga medis.

Perwakilan MSF mengatakan kepada Reuters bahwa organisasi tersebut masih mendukung beberapa layanan penting di RS Nasser, termasuk perawatan rawat inap dan operasi bagi pasien yang membutuhkan tindakan penyelamatan jiwa.

Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang rumah sakit selama perang karena Hamas menggunakan fasilitas tersebut untuk operasi militer, dan bagian jaringan terowongan Hamas ditemukan berada di bawah sejumlah fasilitas medis. Hamas membantah tuduhan menggunakan rumah sakit untuk tujuan militer.

Beberapa sandera Israel yang ditangkap dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang, juga mengaku pernah ditahan di RS Nasser, rumah sakit terbesar di Gaza selatan.

Rumah sakit merupakan lokasi yang dilindungi oleh hukum internasional. Serangan terhadap rumah sakit maupun penggunaan rumah sakit untuk kepentingan militer biasanya dianggap sebagai pelanggaran hukum.

Namun, meski fasilitas medis bisa kehilangan status perlindungan dalam kondisi tertentu, kelompok hak asasi menyatakan Israel belum menunjukkan bukti yang cukup dalam banyak kasus untuk membenarkan serangan terhadap rumah sakit selama perang.

KEYWORD :

rumah sakit gaza perang israel palestina konflik Israel Hamas




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :