Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto: Anadolu)
Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (13/2) kemarin memberi sinyal dukungan terhadap gagasan pergantian rezim di Iran.
“Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan setelah kunjungan ke Fort Bragg di North Carolina dikutip dari Anadolu Agency pada Sabtu (14/2).
Trump menilai selama 47 tahun Iran hanya terus berbicara tanpa tindakan nyata, sementara banyak korban jiwa berjatuhan akibat konflik yang berkepanjangan. Dia menyebut banyak nyawa hilang dan banyak orang mengalami luka parah selama situasi itu berlangsung.
Trump juga menegaskan bahwa kekuatan besar telah tiba di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat disebut terus memperkuat kehadiran militernya di wilayah tersebut sejak Trump mengancam akan melakukan serangan terhadap Iran menyusul pecahnya gelombang protes nasional pada akhir Desember.
Dia menambahkan bahwa kekuatan tambahan, termasuk kapal induk lain, akan segera dikerahkan. Trump mengatakan pihaknya akan melihat apakah situasi ini bisa diselesaikan untuk selamanya.
Saat ditanya siapa yang ia inginkan untuk mengambil alih Iran, Trump menjawab dia tidak ingin membahasnya lebih jauh.
Trump sebelumnya mengatakan AS siap mengerahkan kekuatan yang sangat besar jika negosiasi dengan Iran gagal.
Pengerahan kapal induk kedua dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila tidak tercapai kesepakatan. Menurut Trump, jika kesepakatan tercapai maka pengerahan pasukan dapat dipersingkat dan segera ditarik.
Pernyataan Trump muncul setelah media lokal melaporkan bahwa AS akan mengirim USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah untuk mendukung kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln.
Amerika Serikat dan Iran diketahui menggelar pembicaraan tidak langsung di Muscat pada 6 Februari dengan mediasi Oman untuk membahas program nuklir Teheran.
Pertemuan itu menandai berakhirnya penangguhan sekitar delapan bulan setelah AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dalam eskalasi konflik Iran-Israel pada Juni 2025.
Di tengah negosiasi, AS disebut meningkatkan secara signifikan jejak militernya di kawasan sambil memperingatkan Iran agar mencapai kesepakatan.
Isu pengayaan uranium menjadi titik sengketa utama. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memindahkan uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri.
Washington juga ingin memasukkan program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan dalam negosiasi, tetapi Teheran berulang kali menolak membahas isu di luar program nuklirnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Donald Trump Rezim Iran negosiasi nuklir















