Ilustrasi - China menunjukkan hasil awal yang menggembirakan dari larangan 10 tahun menangkap ikan di Sungai Yangtze yang diterapkan sejak 2021 (Foto: via Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - China menunjukkan hasil awal yang menggembirakan dari larangan 10 tahun menangkap ikan di Sungai Yangtze yang diterapkan sejak 2021. Jumlah ikan besar meningkat, dan spesies terancam pun menunjukkan tanda-tanda pemulihan, termasuk sturgeon Yangtze dan pesut tanpa sirip Yangtze.
Sungai terpanjang di China ini telah mengalami krisis biodiversitas selama dekade karena pembangunan cepat, polusi, bendungan, dan penangkapan ikan berlebihan. Bahkan lumba-lumba Sungai Yangtze dan ikan dayung China telah punah, sementara 135 spesies ikan hilang dari survei historis.
Untuk menekan kerusakan lebih lanjut, pemerintah China mengambil langkah drastis: larangan menangkap ikan di seluruh DAS Yangtze, penegakan ketat dengan polisi sungai, serta investasi miliaran dolar untuk pengelolaan kualitas air. Langkah ini digambarkan sebagai “opsi nuklir” karena dampak sosial dan ekonomi yang besar.
Penelitian terbaru yang dipimpin Yushun Chen dari Chinese Academy of Sciences menggunakan data 2018–2023 untuk menilai efek larangan. Hasilnya menunjukkan total biomassa ikan lebih dari dua kali lipat, dan jumlah spesies meningkat 13 persen dibanding sebelum larangan.
Meski jumlah total ikan tetap stabil, ikan bertubuh besar dan bernilai ekonomi seperti black Amur bream dan white Amur bream meningkat signifikan. Ikan kecil justru menurun 18 persen, menandakan pemulihan rantai makanan secara alami di ekosistem sungai.
Spesies migrasi dan terancam pun menunjukkan pemulihan positif. Misalnya, populasi slender tongue sole meningkat dan jangkauan migrasinya lebih jauh ke hulu, sementara sturgeon Yangtze, Chinese sucker, dan tube fish mulai terlihat kembali di habitat mereka.
Keberhasilan paling mencolok terlihat pada pesut tanpa sirip Yangtze, satu-satunya mamalia air tawar yang tersisa, yang populasinya naik sepertiga dari 445 pada 2017 menjadi 595 pada 2022. Faktor pendukung termasuk lebih banyak ikan besar untuk dimakan, berkurangnya kematian akibat kapal, dan pengurangan kebisingan bawah air.
Para ahli menekankan bahwa keberhasilan ini menunjukkan bahwa langkah konservasi yang tegas dan berkelanjutan bisa membalikkan dampak manusia pada ekosistem. Lise Comte dari Conservation Science Partners menyebut ini “sekilas harapan bagi masa depan biodiversitas air tawar yang sedang terancam.”
Meski hasil awal menggembirakan, para peneliti memperingatkan bahwa kemajuan bisa hilang jika penangkapan ikan komersial kembali. Pemulihan jangka panjang membutuhkan manajemen menyeluruh yang melibatkan semua tekanan manusia terhadap sungai, termasuk pembangunan dan polusi.
China berharap langkah ini bisa menjadi model bagi sungai lain, seperti Mekong dan Amazon. Namun, opsi “nuklir” ini memiliki biaya sosial dan ekonomi tinggi: 111.000 kapal ditarik, 231.000 nelayan direlokasi, dan lebih dari $2,74 miliar diinvestasikan di wilayah Sungai Yangtze.
Steven Cooke dari Carleton University menyatakan bahwa menutup semua perikanan sungai adalah pendekatan ekstrem yang sebaiknya dihindari jika memungkinkan. Pengelolaan berbasis sains, pemantauan populasi ikan, dan pendekatan ekosistem terpadu dianggap lebih berkelanjutan dan ramah sosial. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Sungai Yangtze Larangan menangkap ikan Pemulihan biodiversitas Satwa terancam Sungai Yangtze















