Sabtu, 14/02/2026 20:34 WIB

Studi Gravitasi Baru Guncang Teori Materi Gelap, "Fuzzy" Lebih Menjanjikan?





Penelitian gravitasi terbaru menimbulkan pertanyaan serius terhadap teori utama materi gelap, komponen tak kasatmata yang membentuk sebagian besar massa alam se

Ilustrasi pelensaan gravitasi galaksi model alternatif “fuzzy dark matter” atau FDM (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Penelitian gravitasi terbaru menimbulkan pertanyaan serius terhadap teori utama materi gelap, komponen tak kasatmata yang membentuk sebagian besar massa alam semesta. Analisis terbaru terhadap pelensaan gravitasi galaksi jauh menunjukkan bahwa model “Cold Dark Matter” (CDM) mungkin tidak akurat, sementara model alternatif “fuzzy dark matter” (FDM) mendapat dukungan lebih kuat.

Fenomena pelensaan gravitasi ini diprediksi oleh Albert Einstein melalui teori relativitas umum, yang menyatakan cahaya bisa dibelokkan oleh gravitasi objek masif. Dengan kata lain, cahaya dari galaksi jauh yang terpelintir menjadi “lampu sorot” untuk menyingkap distribusi materi gelap yang tersembunyi.

Materi gelap disebut sebagai tulang punggung kosmos karena perannya membentuk struktur galaksi dan gugus galaksi, meski tidak memancarkan atau memantulkan cahaya. Selama beberapa dekade, CDM menjadi teori dominan, menggambarkan materi gelap sebagai partikel kecil yang bergerak lambat dan hanya berinteraksi melalui gravitasi.

Namun, CDM menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kesulitan menjelaskan distribusi materi pada galaksi kecil dan pola rotasi galaksi kerdil yang tidak sesuai prediksi. Karena itu, para ilmuwan menggunakan fenomena pelensaan gravitasi untuk melihat distribusi materi gelap secara tidak langsung.

Dikutip Live Science, pelensaan gravitasi terjadi ketika cahaya dari galaksi jauh dibelokkan oleh gravitasi objek masif di depannya, sehingga distorsi cahaya itu menjadi petunjuk bentuk dan kepadatan materi gelap. Dalam studi terbaru, data dari 11 galaksi dengan pola pelensaan yang tajam menunjukkan bahwa model CDM yang halus tidak sesuai dengan pengamatan.

Sebaliknya, data ini secara konsisten mendukung model fuzzy dark matter, bahkan ketika model diperluas dan sistem yang terpengaruh microlensing dikeluarkan. FDM menggambarkan materi gelap bukan sebagai partikel diskrit, melainkan gelombang kuantum superringan yang membentuk pola riak lembut di alam semesta.

Jika model FDM terbukti benar, struktur kosmik tidak tersusun dari “butiran partikel” melainkan kabut kuantum raksasa yang beriak secara halus. Hal ini akan mengubah pemahaman kita tentang pembentukan galaksi dan evolusi kosmos, karena model kosmologi saat ini sebagian besar dibangun di atas asumsi CDM.

Meski begitu, peneliti menekankan bahwa studi ini masih awal dan belum melalui peer review. Konfirmasi tambahan dari observasi lain diperlukan untuk memahami bagaimana materi gelap fuzzy berinteraksi dengan materi biasa dan apa sifat gelombang kuantum yang menyusunnya.

Selama bertahun-tahun, CDM menjadi “tersangka utama” dalam misteri materi gelap, tetapi bukti terbaru menunjukkan bahwa fondasi tak terlihat alam semesta mungkin jauh lebih eksotis dan bersifat kuantum. Penemuan ini membuka babak baru dalam upaya memahami arsitektur sejati kosmos dan menegaskan bahwa alam semesta selalu menyimpan rahasia yang menunggu diungkap. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Penemuan kosmos terbaru Materi gelap Fuzzy Dark Matter Cold Dark Matter Teori relativitas umum




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :