Minggu, 15/02/2026 07:55 WIB

Ini Peringatan dari Rasulullah SAW soal Istri yang Tidak Bersyukur





Pembahasan mengenai sikap istri terhadap suami kerap dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang memberi peringatan keras.

Ilustrasi - seorang istri yang tidak bersyukur telah Rasulullah SAW peringatkan dalam hadisnya (Foto: Pexels: ANTONI SHKRABA production)

 

Jakarta, Jurnas.com - Pembahasan mengenai sikap istri terhadap suami kerap dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang memberi peringatan keras tentang pentingnya menjaga akhlak dalam rumah tangga.

Rasulullah SAW pernah menggambarkan keadaan neraka dan menyebut sebagian besar penghuninya adalah perempuan, bukan karena mereka keluar dari Islam, tetapi karena sikap tidak bersyukur terhadap pasangan.

Rasulullah SAW bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ، قِيلَ: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ

“Aku diperlihatkan neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena mereka kufur.” Ditanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menegaskan, kata kufur dalam hadis tersebut bukan berarti keluar dari agama, melainkan kufur nikmat, yaitu mengabaikan kebaikan, meremehkan pengorbanan, serta mudah mencela pasangan meski telah diperlakukan baik.

Islam memandang pernikahan sebagai ikatan yang sangat kuat. Al-Qur`an menyebutnya mitsaqan ghalizha (perjanjian kokoh). Allah SWT berfirman:

وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا
“…dan mereka (para istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa: 21)

Karena itu hubungan suami-istri bukan sekadar hubungan sosial, tetapi bagian dari ibadah. Suami diperintahkan memperlakukan istri dengan baik:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka (istri-istri) dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisa: 19)

Sebaliknya, istri juga dianjurkan menghormati dan menaati suami dalam perkara yang baik.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa keharmonisan rumah tangga termasuk bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun, Islam juga menegaskan batasannya. Ketaatan hanya berlaku dalam perkara yang baik, bukan dalam kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)

Artinya, apabila suami memerintahkan sesuatu yang melanggar syariat atau melakukan kezaliman, istri tidak wajib menaatinya. Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama dalam hubungan suami-istri.

Sikap kufur kepada suami yang dimaksud para ulama adalah kebiasaan meremehkan usaha pasangan, mudah mencela, melupakan kebaikan, dan tidak bersyukur. Padahal, Allah SWT mengingatkan:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur menjadi kunci keberkahan dalam rumah tangga. Sebaliknya, sikap ingkar terhadap kebaikan pasangan bisa merusak ketenteraman keluarga.

Karena itu, peringatan dalam hadis bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai nasihat agar suami dan istri sama-sama menjaga akhlak. Suami dituntut memimpin dengan kasih sayang, sementara istri menjaga hormat dan penghargaan.

Rumah tangga yang dibangun atas iman, syukur, dan saling menghormati diharapkan menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

KEYWORD :

Info Keislaman Suami Istri Nabi Muhammad SAW Rumah Tangga




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :