Sabtu, 14/02/2026 08:56 WIB

Mengapa Tahun Baru Imlek Identik dengan Kebersamaan Keluarga?





Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya identik dengan lampion merah, barongsai, dan angpao.

Ilustrasi - perayaan Tahun Baru Imlek (Foto: Pexels/Henry&Co)

 

Jakarta, Jurnas.com - Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya identik dengan lampion merah, barongsai, dan angpao. Di balik kemeriahannya, Imlek sesungguhnya merupakan momen keluarga yang sangat kuat.

Bagi masyarakat Tionghoa, hari tersebut justru lebih penting sebagai waktu berkumpul bersama orang tua, saudara, dan kerabat yang jarang bertemu sepanjang tahun.

Dalam tradisi Tionghoa, perayaan dimulai sejak malam sebelum pergantian tahun melalui acara makan malam keluarga atau reunion dinner. Semua anggota keluarga diupayakan pulang ke rumah orang tua, bahkan jika harus menempuh perjalanan jauh. Tradisi ini melambangkan penghormatan kepada leluhur serta mempererat hubungan antargenerasi.

Kebersamaan keluarga dalam Imlek juga berkaitan dengan filosofi awal tahun sebagai simbol permulaan hidup yang baru. Masyarakat percaya bahwa memasuki tahun baru dengan berkumpul bersama keluarga akan membawa keharmonisan dan keberuntungan.

Karena itu, banyak orang rela menunda pekerjaan atau perjalanan lain demi pulang kampung. Fenomena arus mudik menjelang Imlek bahkan terjadi di berbagai negara dengan populasi Tionghoa besar.

Selain makan malam bersama, keluarga biasanya saling berkunjung pada hari-hari awal tahun baru. Anak-anak memberi salam kepada orang tua dan orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.

Sebaliknya, orang tua memberikan doa serta angpao sebagai simbol harapan baik, bukan sekadar hadiah uang. Nilai utamanya terletak pada restu dan hubungan kekeluargaan.

Tradisi membersihkan rumah sebelum Imlek juga memiliki makna sosial. Aktivitas ini sering dilakukan bersama anggota keluarga sebagai simbol membuang kesialan tahun lalu dan menyambut harapan baru.

Setelah hari pertama Imlek, menyapu bahkan dihindari karena dipercaya bisa “membuang” keberuntungan yang baru datang. Meski bersifat simbolik, praktik tersebut memperlihatkan pentingnya kerja sama keluarga dalam perayaan.

Di Indonesia, nuansa kekeluargaan Imlek juga terasa kuat. Banyak keluarga Tionghoa menggelar open house dan mengundang tetangga tanpa membedakan latar belakang agama maupun suku. Hal ini menjadikan Imlek bukan hanya perayaan etnis, tetapi juga momentum silaturahmi sosial.

Pada akhirnya, yang membuat Imlek bertahan selama ribuan tahun bukan sekadar tradisi budaya, melainkan nilai yang dibawanya: menghormati orang tua, mempererat persaudaraan, dan menjaga hubungan antarmanusia.

Perayaan ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kemewahan, tetapi dari kehadiran keluarga yang berkumpul dalam satu meja.

KEYWORD :

Perayaaan Tahun Baru Imlek Tradisi Tionghoa Kumpul Keluarga




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :