Dosen Paramadina, Faris Budiman Annas (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Film animasi sudah lama dikenal mampu membentuk norma sosial di masyarakat. Salah satunya mendorong anak mengonsumsi bayam melalui film `Popeye Si Pelaut` pada tahun 90-an, mencegah penularan Covid-19 di serial `Upin dan Ipin`, hingga edukasi kesehatan mental melalui animasi `Inside Out 2`.
Hal ini ditekankan oleh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Faris Budiman Annas. Menurut dia, karya-karya visual memang efektif dalam menyampaikan kampanye kesehatan untuk anak-anak.
Menurut dia, seiring perkembangan strategi komunikasi dan pesatnya teknologi informasi, cara-cara kampanye tentang isu kesehatan juga terus berkembang. Karya visual dan animasi kini disebarkan melalui media digital, bahkan dikombinasikan sebagai permainan interaktif.
"Kita implementasikan teknologi dalam literasi gizi dan kesehatan. Jadi tidak pakai cara-cara konvensional," ujar Faris.
Metode ini bukan hanya menarik minat anak-anak. Orang tua pun dapat lebih memahami isu-isu kesehatan melalui penyampaian yang atraktif dan tak membosankan. Pada gilirannya, strategi komunikasi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan, seperti perbaikan gizi dan pencegahan stunting.
Rakornas Percepatan Penurunan Stunting 2024 Bahas Refleksi Hingga Luncurkan Layanan Digital
Sebagai pengajar, Faris tak sekadar mengacu teori di literatur ilmu komunikasi dalam menyampaikan perkembangan tersebut. Hal itu ia buktikan sendiri berkat keterlibatannya sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia yang dikenal juga sebagai Yayasan Balita Sehat, sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup dan kesehatan ibu dan anak.
"Kita punya beberapa project di daerah-daerah tertinggal seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). Supaya anak-anak di sana melek terkait kesehatan dan gizi, pertumbuhan mereka bagus, dan mencegah stunting," kata dia.
Hingga kini, NTT memang tergolong daerah dengan angka stunting tinggi di Indonesia, yakni mencapai 37 persen pada 2023-2025. Kondisi tersebut tak lepas dari gizi buruk, kemiskinan, dan sulitnya akses air bersih di sana.
Sejak 2019, Faris terjun ke NTT untuk melakukan misi sosial dalam penanganan masalah kesehatan di daerah itu. Memanfaatkan skill-nya di bidang komunikasi, ia bertugas sebagai fotografer dan videografer yang merekam dokumentasi dan menyiapkan materi kampanye.
Pada perkembangannya, sebagai akademisi dan Sekretaris FMCH Indonesia, Faris turut memberikan arahan, menggelar brainstorming, hingga melakukan monitoring terhadap kampanye-kampanye kesehatan yang dikembangkan FMCH Indonesia. Bukan hanya di NTT, dukungan lembaga tersebut juga mencakup sejumlah wilayah di Jakarta dan Bogor.
"Kalau anak-anak ini dan orang tua mereka literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya adalah tingkat stuntingnya menurun," ujar Faris menambahkan.
Keterlibatan Faris untuk bergabung dengan lembaga nirlaba di ranah kesehatan ini tak lepas dari keaktifannya di berbagai kegiatan, baik akademik, bisnis, hingga sociopreneurship.
Pada 2009, Faris menempuh studi S1 Ilmu Komunkasi di Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah menjadi sarjana, pemuda asal Gorontalo, Sulawesi Utara ini sempat terjun sebagai praktisi dengan menjadi jurnalis. Faris juga mengembangkan sejumlah usaha dan startup, termasuk kafe Secangkir Kopi dan agensi media Qonten Indonesia.
Tahun 2015, Faris memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia (UI), di sinilah ia mengetahui adanya dukungan pendidikan lewat beasiswa yang diberikan lembaga filantropi Tanoto Foundation.
Tertarik, Faris pun mendaftar, mengikuti serangkaian seleksi, dan dinyatakan lolos. Tak hanya menjadi penerima beasiswa, sosoknya yang aktif membuatnya terlibat di berbagai program Tanoto Foundation yang bertujuan untuk mengasah kepemimpinan para Tanoto Scholar (penerima beasiswa).
"Kita bikin beberapa kali kegiatan, seperti menjadikan taman sebagai ruang dan program sosial di Museum Batik, Jakarta, dengan memberikan edukasi soal batik," kata dia.
Menurut Faris, Tanoto Foundation bukan hanya memberikan dukungan pendanaan pendidikan kepada mahasiswa. Beasiswa ini juga memperluas wawasan dan jejaring para penerima beasiswa dengan banyak pihak, terutama dari para alumni peraih beasiswa yang telah menyebar di berbagai bidang profesional.
"Alumni gatheringnya ini keren. Jadi kita tidak hanya dapat benefit secara ekonomi, tapi dari sisi networking dan pengalaman kita bisa dapatkan dari beasiswa Tanoto Foundation ini. Gara-gara pertemuan-pertemuan ini kita juga bisa berkolaborasi," ujar dia.
Namun yang paling berkesan, menurut Faris, berbagai program dan pelatihan di Tanoto Foundation memberikan dampak besar baginya secara personal.
"Kepekaan terhadap isu-isu sosial itu terpantik gara-gara aktif waktu dulu dapat beasiswa. Makanya sampai sekarang, saat sudah jadi alumni pun, saya masih aktif di kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan. Kalau saya flashback, salah satu momentum yang membangkitkan insting saya untuk punya kepekaan sosial ya di program Tanoto Scholar," kata Faris.
Dengan dukungan beasiswa Tanoto Foundation, gelar master diraih Faris pada 2017. Setahun kemudian, dia mulai mengajar ilmu komunikasi di Universitas Paramadina. Faris mengaku memiliki darah sebagai seorang pendidik dari kakek yang seorang dosen dan neneknya yang menjadi guru, sementara sang ayah adalah peneliti di bidang pertanian.
"Seru aja gitu melihat orang meneliti kayaknya belajar terus. Waktu saya kecil yang saya lihat ilmuwan-ilmuwan Albert Einstein dan Thomas Alva Edison kayaknya menarik," kata dia seraya tertawa.
Komitmen untuk menjadi pengajar dilandasi keyakinan Faris bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi dari sejumlah pengalamannya, dia menyaksikan sendiri perjuangan seseorang untuk mengangkat harkat hidup lewat pendidikan. Salah satunya dari mahasiswa saat ia sempat mengajar di Gorontalo.
Mahasiswa tersebut menjadi sopir becak motor (bentor) sepulang kuliah. Kini, setelah lulus, mahasiswa itu mengembangkan usaha video pernikahan di kampung halamannya berkat ilmu videografi yang diajarkan di bangku kuliah.
"Masuk kampus jadi salah satu medium saya buat berbagi ilmu dengan banyak orang, baik itu mahasiswa maupun kolega lainnya. Ilmu yang bermanfaat bisa dipakai buat kerja, dapat penghasilan, terus improve-lah kehidupannya. Pendidikan salah satu bentuk katalis untuk menaikkan level kehidupan seseorang," ujar Faris.
Tak hanya di kelas, kiprah Faris juga menjangkau kalangan akar rumput yang lebih luas. Seperti yang dikatakannya, hal itu tak lepas dari relasi dan silaturahmi dengan komunitas alumni penerima beasiswa Tanoto Foundation yang tak pernah putus hingga membuka jejaring lebih luas.
Dari komunitas ini, Faris menerima informasi adanya kebutuhan peneliti untuk sebuah riset tentang pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Faris pun tertarik untuk bergabung, kendati pihak perekrut melihat kualifikasi sang dosen terlalu tinggi.
"Waktu itu saya sudah kelar S2 dan mengajar, mereka kaget kenapa mau bantu. Takutnya enggak sesuai ekspektasi benefitnya. Saya pun bilang, memang saya pengin bantu, enggak ngincer timbal balik. Memang pengin cari pengalaman," kata dia menambahkan.
Kinerja Faris dalam riset tersebut menuai apresiasi. Sejumlah pihak yang terlibat di penelitian itu kemudian mengajaknya untuk bergabung di Yayasan Balita Sehat (Foundation for Mother and Child Health Indonesia) untuk menangai program-program komunikasi di bidang kesehatan. Dia pun langsung mengangguk setuju.
"Sifatnya ini probono. Sukarela," kata Faris yang baru saja meraih gelar doktor dari Universitas Paramadina.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Penurunan Stunting Faris Budiman Annas Edukasi Karya Visual















