Jum'at, 13/02/2026 14:27 WIB

Sejarah Radio Pertama di Indonesia, Jejak Radio Malabar dan Awal Penyiaran





Sejarah radio pertama di Indonesia bermula dari Radio Malabar di Gunung Puntang, Pegunungan Malabar, Bandung, yang menghubungkan Asia dan Eropa sejak 1923

Stasiun radio Malabar yang berlokasi di kawasan Gunung Puntang, Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Foto: Direktorat Jenderal Infrastrutur Digital)

Jakarta, Jurnas.com - Sejarah penyiaran radio di Indonesia tidak lahir dalam satu momentum tunggal. Ia tumbuh dari persilangan teknologi kolonial, dinamika kebudayaan, hingga semangat nasionalisme. Dari proyek ambisius komunikasi nirkabel lintas benua di Gunung Puntang, Pegunungan Malabar, hingga berdirinya lembaga penyiaran nasional, perjalanan radio di Indonesia menarik untuk disimak.

Nama Radio Malabar tercatat sebagai salah satu pelopor komunikasi nirkabel jarak jauh di dunia. Stasiun radio yang berlokasi di kawasan Gunung Puntang, Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ini menghubungkan Bandung di Asia dengan Amsterdam di Eropa sejak 1923.

Dikutip Direktorat Jenderal Infrastrutur Digital, berdasarkan siaran pers Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Bandung pada 29 Juli 2020, pembangunan stasiun ini dimulai pada 1916 atas rancangan insinyur Belanda, Cornelis Johannes de Groot.

Teknologi yang digunakan tergolong revolusioner pada masanya. Antena sepanjang dua kilometer dibentangkan antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun, dengan ketinggian rata-rata 350 meter dari dasar lembah. Arah pancaran difokuskan ke Belanda, yang berjarak sekitar 12.000 kilometer. Proyek ini menempatkan Hindia Belanda dalam peta penting perkembangan teknologi komunikasi global.

Namun penting dicatat, Radio Malabar berfungsi sebagai radio komunikasi (telekomunikasi), bukan radio siaran untuk publik.

Pada 27 Juli 2020, Balmon Bandung bersama Dinas Kominfotik Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung menggelar kegiatan napak tilas Radio Malabar sebagai bagian dari edukasi sejarah telekomunikasi kepada masyarakat.

Dikutip dari laman Komdigi, jika berbicara tentang radio siaran (broadcasting) pertama di Indonesia, banyak sejarawan merujuk pada berdirinya Bataviasche Radio Vereeniging pada 1925. Radio swasta milik Belanda ini dianggap sebagai stasiun radio siaran pertama yang mengudara di Indonesia.

Sementara itu, masyarakat pribumi mulai berkenalan dengan siaran radio pada 1927. Momentum penting terjadi ketika Mangkunegara VII menerima hadiah pesawat radio penerima (receiver) dari seorang Belanda. Perangkat tersebut kemudian diserahkan kepada RM Ir. Sarsito Mangunkusumo.

Pada 31 Maret 1927, Mangkunegara VII bersama permaisurinya mendengarkan siaran langsung pidato Ratu Wilhelmina dari Eindhoven, Belanda. Bagi masyarakat saat itu, radio, yang disebut “radio toestel”, dipandang sebagai benda ajaib, meskipun kualitas suaranya belum jernih.

Adanya dualisme sistem penyiaran: Barat versus Ketimuran. Sejak awal, penyiaran radio di Indonesia berkembang dalam dua arus besar: 1) Jaringan radio Belanda, berorientasi pada budaya Barat; dan 2) Radio Ketimuran, yang digagas dan dikelola pribumi dengan fokus pada budaya tradisional.

Pada awal 1930-an, stasiun radio Belanda tumbuh pesat di berbagai kota. Puncaknya adalah pendirian Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) pada 1934 sebagai jaringan penyiaran kolonial resmi.

Di sisi lain, Mangkunegara VII menyadari besarnya pengaruh radio terhadap masyarakat, terutama ketika musik Barat mulai mendominasi pasar piringan hitam. Ia kemudian menginisiasi siaran gamelan Jawa melalui radio amatir dengan call sign PK2MN, yang juga dikenal sebagai Perkumpulan Karawitan Kring Mangkoenegaran.

Langkah lebih progresif dilakukan dengan mendirikan Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada 1 April 1933 di Solo. SRV menjadi tonggak penting sistem penyiaran profesional yang dikelola pribumi.

Jaringan Radio Ketimuran kemudian berkembang ke Semarang, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Pada 28 Maret 1937, jaringan ini mendirikan asosiasi nasional pertama bernama Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK).

Meski pada 1940 PPRK bekerja sama secara politik dan ekonomi dengan NIROM, orientasi kontennya tetap berbeda. Radio Ketimuran konsisten mengangkat kesenian dan budaya timur sebagai identitas bangsa.

Dalam perkembangannya, radio tidak hanya menjadi medium hiburan dan informasi, tetapi juga alat perjuangan identitas. Sejarawan Hari Wiryawan menyebut fenomena ini sebagai “perlawanan budaya”, upaya kaum penyiaran Indonesia melawan dominasi budaya Barat melalui konten siaran.

Belanda menggunakan NIROM untuk memperkuat pengaruh kolonial melalui budaya Barat. Namun Radio Ketimuran membalas dengan menonjolkan seni tradisional dan nilai kebangsaan, memperkuat solidaritas masyarakat Nusantara.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, NIROM diambil alih dan diubah menjadi Hoso Kanri Kyoku (HKK). Dalam fase ini, perlawanan bertransformasi menjadi perjuangan politik dan militer.

Puncak sejarah penyiaran Indonesia terjadi pada 11 September 1945 dengan berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Lembaga ini menjadi simbol kedaulatan penyiaran nasional dan memainkan peran strategis dalam perang kemerdekaan 1946–1949.

RRI memanfaatkan radio sebagai alat komunikasi perjuangan, menyebarkan informasi, membangun moral rakyat, dan menggalang dukungan internasional. Fase ini menandai kemenangan perlawanan budaya yang sebelumnya dirintis melalui Radio Ketimuran.

Dari Radio Malabar yang menghubungkan dua benua hingga berdirinya RRI sebagai suara bangsa merdeka, sejarah radio Indonesia menunjukkan bahwa teknologi tidak pernah netral. Ia selalu berkait dengan kekuasaan, identitas, dan perjuangan.

Jejak panjang ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan industri penyiaran nasional saat ini, sekaligus pengingat bahwa radio bukan sekadar medium suara, melainkan instrumen sejarah yang membentuk arah bangsa. (*)

Sumber: Direktorat Jenderal Infrastrutur Digital, Komdigi

KEYWORD :

Radio pertama di Indonesia Radio Malabar Gunung Malabar Sejarah Penyiaran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :