Jum'at, 13/02/2026 13:46 WIB

Jumat Terakhir Syaban 2026, Ramadan Kian Dekat, Apa yang Perlu Disiapkan?





Umat Islam memasuki Jumat terakhir bulan Syaban 1447 Hijriah yang tahun ini bertepatan dengan Jumat (13/2/2026)

Ilustrasi mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadan 2026 (Foto: Pexels/PNW Production)

Jakarta, Jurnas.com - Umat Islam memasuki Jumat terakhir bulan Syaban 1447 Hijriah yang tahun ini bertepatan dengan Jumat (13/2/2026). Momen ini menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadan tinggal menghitung hari. Di berbagai masjid dan majelis taklim, tema persiapan menyambut Ramadan kembali mengemuka: apa saja yang perlu disiapkan agar ibadah lebih maksimal?

Syaban dikenal sebagai bulan yang sarat keberkahan sekaligus fase pematangan spiritual sebelum Ramadan. Para ulama menyebutnya sebagai waktu terbaik untuk memperkuat fondasi keimanan, menjaga kesehatan, serta menyiapkan bekal lahir dan batin.

Dikutip dari berbagai sumber, hal pertama yang ditekankan para ulama adalah penguatan iman. Perintah puasa dalam Al-Qur’an secara tegas ditujukan kepada orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa…” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan ibadah yang mensyaratkan kesiapan spiritual. Karena itu, Syaban menjadi momentum muhasabah, mengevaluasi kualitas ibadah, memperbaiki niat, dan membersihkan hati sebelum memasuki Ramadan.

Selain iman, kesehatan juga menjadi faktor penting. Dalam literatur fikih, kondisi sehat termasuk syarat wajib puasa. Orang yang sakit diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.

Puasa Ramadan bukan hanya ibadah ruhaniyah, tetapi juga jasmaniyah. Aktivitas menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, disertai ibadah malam seperti tarawih, membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima.

Karena itu, menjaga pola makan, istirahat cukup, serta mengelola stres sejak bulan Syaban dinilai sebagai bagian dari persiapan yang tak kalah penting.

Persiapan menyambut Ramadan juga mencakup aspek perbekalan. Bagi sebagian orang, produktivitas kerja dapat sedikit berubah selama bulan puasa. Karena itu, menata keuangan dan memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi sejak Syaban dapat membantu menjaga fokus ibadah di bulan suci.

Dikutip dari laman Nadlatul Ulama, langkah ini bukan semata soal materi, tetapi strategi agar Ramadan dapat dijalani dengan lebih tenang dan khusyuk. Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban (hlm. 57), As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menekankan pentingnya memperbanyak istigfar sebagai bentuk tobat dan penyucian diri.

Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Siapa saja yang membiasakan istigfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar atas segala kesempitannya, memberikan kelapangan atas segala kesusahannya, serta memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka,” (HR. Abu Dawud).

Istigfar tidak hanya bermakna memohon ampun, tetapi juga diyakini membuka pintu kemudahan dan rezeki. Bagi banyak Muslim, akhir Syaban menjadi waktu refleksi mendalam sebelum memasuki Ramadan.

Dalam riwayat yang disampaikan Abu Ya’la, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencatat setiap jiwa yang akan meninggal pada tahun itu, maka aku ingin ajalku datang dalam keadaan berpuasa,” (HR. Abu Ya’la).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa pada bulan Syaban Allah menetapkan catatan takdir tahunan, termasuk ajal hamba-Nya. Karena itu, memperbanyak puasa sunnah di bulan ini dipandang sebagai bentuk kesiapan spiritual sekaligus pendekatan diri kepada Allah.

Bulan Syaban juga diyakini sebagai waktu turunnya ayat perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Karena itu, memperbanyak shalawat menjadi amalan yang dianjurkan. Selain itu, umat Islam didorong untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bangun malam (qiyamul lail), bersedekah, serta berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan dalam kondisi maksimal, baik secara lahir maupun batin.

Salah satu doa yang kerap dibaca menjelang Ramadan adalah:

“Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadan.”
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Dengan demikian, Jumat terakhir Syaban 1447 H menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan pembaruan diri yang datang sekali dalam setahun. Persiapan yang matang, baik iman, kesehatan, maupun perbekalan, akan menentukan kualitas ibadah selama sebulan penuh.

Dengan Ramadan yang semakin dekat, Syaban menjadi ruang refleksi: sudahkah hati dibersihkan, tubuh dipersiapkan, dan niat diluruskan? Bagi umat Islam, inilah waktu terbaik untuk bersiap, agar Ramadan tidak sekadar datang dan pergi, tetapi benar-benar menjadi bulan transformasi spiritual. (*)

KEYWORD :

Jumat Terakhir Bulan Syaban Doa Akhir Syaban Menyambut Ramadan Persiapan Ramadan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :