Jum'at, 13/02/2026 13:08 WIB

Mesin Turbo atau Naturally Aspirated, Mana yang Lebih Awet?





Mesin naturally aspirated unggul dalam kesederhanaan dan ketahanan, sedangkan mesin turbo menawarkan performa tinggi dan efisiensi teknologi modern.

Ilustrasi - mesin turbo (Foto: hyundaimobil)

Jakarta, Jurnas.com - Perkembangan teknologi otomotif membuat penggunaan mesin turbo semakin umum, bahkan pada mobil harian. Banyak pabrikan kini mengecilkan kapasitas mesin namun menambahkan turbocharger agar tenaga tetap besar sekaligus menjaga efisiensi bahan bakar. Karena itu, mesin berkapasitas kecil saat ini mampu menghasilkan performa setara mesin besar pada mobil generasi lama.

Di sisi lain, sebagian pengemudi masih lebih percaya pada mesin naturally aspirated (NA) yang dianggap lebih tahan lama. Mesin NA bekerja tanpa bantuan alat pemampat udara; udara masuk ke ruang bakar hanya mengandalkan hisapan piston.

Tenaga meningkat mengikuti putaran mesin sehingga karakter akselerasinya halus dan stabil. Konstruksinya sederhana membuat perawatan relatif mudah dan tidak terlalu sensitif terhadap kualitas bahan bakar maupun oli.

Berbeda dengan itu, mesin turbo memakai perangkat turbocharger yang memanfaatkan gas buang untuk memampatkan udara sebelum masuk ke ruang bakar.

Udara yang lebih padat mengandung oksigen lebih banyak sehingga pembakaran menjadi lebih kuat dan tenaga meningkat signifikan. Inilah sebabnya mobil bermesin kecil dapat memiliki akselerasi cepat dan performa tinggi.

Perbedaan cara kerja tersebut memengaruhi karakter kendaraan. Mesin turbo unggul pada tenaga dan respons awal, sedangkan mesin NA menghasilkan tenaga bertahap yang lebih mudah dikontrol.

Dalam kondisi berkendara normal, mesin turbo bisa lebih hemat karena mesin tidak perlu bekerja keras, tetapi bila sering digunakan pada putaran tinggi justru konsumsi bahan bakarnya dapat meningkat.

Dari sisi keawetan, mesin NA umumnya lebih tahan lama karena bekerja pada suhu dan tekanan lebih rendah serta memiliki komponen lebih sedikit. Sebaliknya, turbocharger berputar sangat cepat dan menghasilkan panas tinggi sehingga membutuhkan pelumasan dan pendinginan optimal. Meski demikian, mesin turbo tetap bisa berumur panjang apabila dirawat sesuai prosedur.

Banyak kerusakan turbo sebenarnya disebabkan kebiasaan pengemudi, seperti langsung mematikan mesin setelah perjalanan jauh, terlambat mengganti oli, atau menggunakan bahan bakar beroktan rendah. Saat mesin dimatikan tiba-tiba, sirkulasi oli berhenti sementara turbo masih panas, sehingga komponen cepat aus.

Untuk menjaga mesin turbo tetap awet, pengemudi dianjurkan menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan, mengganti oli tepat waktu, serta membiarkan mesin idle sekitar 30–60 detik sebelum dimatikan setelah perjalanan cepat. Pemanasan mesin singkat sebelum digunakan juga membantu menjaga pelumasan.

KEYWORD :

mesin naturally aspirated mesin turbo teknologi modern




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :