Jum'at, 13/02/2026 01:14 WIB

Komet C/2026 A1 Dekati Matahari, Berpeluang Terlihat di Siang Hari





Komet bertipe sungrazing bernama C/2026 A1 (MAPS) diperkirakan akan melintas sangat dekat dengan Matahari pada 4 April mendatang

Komet bertipe sungrazing bernama C/2026 A1 (MAPS) diperkirakan akan melintas sangat dekat dengan Matahari pada 4 April mendatang (Foto: via Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Para astronom menemukan komet baru yang berpotensi menjadi tontonan langka pada awal April 2026. Komet bertipe sungrazing bernama C/2026 A1 (MAPS) diperkirakan akan melintas sangat dekat dengan Matahari pada 4 April mendatang.

Dikutip dari Live Science, jika berhasil bertahan dari paparan panas dan gravitasi ekstrem, komet ini bisa bersinar cukup terang untuk terlihat dengan mata telanjang, bahkan pada siang hari. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa sebagian besar komet sungrazing hancur saat mencapai titik terdekatnya dengan Matahari.

C/2026 A1 (MAPS) ditemukan pada 13 Januari 2026 oleh tim astronom Prancis di Observatorium AMACS1, Gurun Atacama, Chile. Saat pertama kali terdeteksi, komet ini berada sedikit lebih dari dua kali jarak Bumi–Matahari.

Berdasarkan estimasi awal yang dilaporkan Sky & Telescope, inti komet diperkirakan berdiameter sekitar 2,4 kilometer. Ukuran ini relatif besar dibanding banyak komet sungrazing lain yang biasanya kecil dan baru terdeteksi beberapa hari sebelum hancur.

C/2026 A1 tergolong dalam keluarga Kreutz sungrazers, kelompok lebih dari 3.500 komet yang memiliki orbit sangat ekstrem, membawa mereka mendekat hingga sekitar 1,4 juta kilometer dari Matahari.

Para astronom menduga seluruh keluarga Kreutz berasal dari satu komet raksasa yang pecah sekitar 1.700 tahun lalu akibat tarikan gravitasi Matahari.

Pada 4 April 2026, C/2026 A1 akan mencapai perihelion, titik terdekat ke Matahari, dengan jarak sekitar 800.000 kilometer dari permukaan Matahari. Itu berarti sekitar 70 kali lebih dekat dibanding jarak Merkurius ke Matahari.

Di titik tersebut, komet akan melesat dengan kecepatan lebih dari 3,2 juta kilometer per jam, menghadapi tekanan gravitasi ekstrem, suhu sangat tinggi, radiasi Matahari intens. Kondisi inilah yang sering kali merobek komet sungrazing hingga hancur total.

C/2026 A1 diduga berasal dari subkelompok penting dalam keluarga Kreutz yang terkait dengan “Great Comet of 1106”. Beberapa “anggota alumni” kelompok ini menghasilkan fenomena spektakuler, termasuk Komet Ikeya-Seki (1965) yang bersinar lebih terang dari bulan purnama, dan Komet Lovejoy (2011) yang sempat bertahan meski kehilangan sebagian besar intinya.

Saat komet mendekati Matahari, panas ekstrem menyebabkan sublimasi es dalam jumlah besar. Gas dan debu yang dilepaskan memantulkan cahaya Matahari, membuat komet bersinar sangat terang dan kadang membentuk ekor besar menyerupai sapu.

Beberapa peneliti, seperti dikutip dalam artikel di The Conversation, memperkirakan C/2026 A1 berpotensi menjadi beberapa kali lebih terang daripada bulan purnama. Jika itu terjadi, komet bisa terlihat dengan mata telanjang di langit siang hari, fenomena yang sangat jarang terjadi.

Namun, prediksi kecerlangan masih sangat spekulatif. Jika komet hancur sebelum atau saat perihelion, ia tidak akan mencapai puncak kecerahannya.

Sebagai catatan, saat gerhana Matahari total April 2024, sebuah komet sungrazing kecil ditemukan hanya beberapa jam sebelum lenyap sepenuhnya.

Kapan dan Di Mana Bisa Dilihat? Jika C/2026 A1 selamat dari “tarian maut” di sekitar Matahari, kecerlangan maksimum diperkirakan terjadi beberapa hari setelah perihelion, saat komet mendekati jarak terdekatnya dengan Bumi di akhir April.

  • Belahan Bumi Selatan diperkirakan mendapat posisi pengamatan terbaik.

  • Di Belahan Bumi Utara, komet kemungkinan terlihat rendah di cakrawala barat daya sebelum matahari terbenam.

  • Bahkan jika hancur, komet tetap berpotensi terlihat sejak akhir Maret menggunakan teleskop atau binokular astronomi yang memadai.

Para astronom menekankan pentingnya tidak mengamati dekat Matahari tanpa perlindungan mata yang sesuai, karena risiko kerusakan mata permanen sangat tinggi.

Saingan “Komet Besar 2026”? Selain C/2026 A1, komet lain bernama C/2025 R3 (PanSTARRS) juga diperkirakan mencapai perihelion pada 20 April 2026 dan berpotensi terlihat tanpa teleskop. Komet ini bahkan sempat dijuluki “Great Comet of 2026”, meski prediksi tersebut dinilai masih terlalu dini.

Apakah C/2026 A1 akan merebut gelar itu? Jawabannya bergantung pada satu faktor krusial: apakah ia mampu bertahan dari panas dan gravitasi ekstrem Matahari pada awal April nanti.

Untuk saat ini, para astronom dan pengamat langit di seluruh dunia menunggu dengan penuh antisipasi, menyaksikan apakah komet es berusia ribuan tahun ini akan menjadi pertunjukan langit paling spektakuler tahun 2026, atau justru lenyap sebelum sempat bersinar terang. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Komet C/2026 A1 komet sungrazing Fenomena Astonomi Fenomena Langit




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :