Kamis, 12/02/2026 13:44 WIB

China Ubah Gurun Taklamakan Jadi Carbon Sink, Studi PNAS Ungkap Fakta Baru





Upaya rekayasa ekologi berskala raksasa di Gurun Taklamakan, China, mulai menunjukkan hasil yang signifikan

Potret Gurun Taklamakan menghijau (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Upaya rekayasa ekologi berskala raksasa di China mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Penelitian terbaru mengungkap bahwa penanaman pohon besar-besaran di sekitar Gurun Taklamakan telah mengubah kawasan yang selama ini dijuluki “biological void” atau kekosongan biologis menjadi penyerap karbon (carbon sink) yang mampu menyerap lebih banyak karbon dioksida (CO2) daripada yang dilepaskannya.

Temuan ini dipublikasikan pada 19 Januari di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), dan menjadi salah satu bukti paling kuat sejauh ini bahwa intervensi manusia dapat meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap gurun yang ekstrem.

Gurun Taklamakan, juga dieja Taklimakan atau Takla Makan, membentang sekitar 130.000 mil persegi (337.000 kilometer persegi), sedikit lebih luas dari negara bagian Montana di Amerika Serikat. Terletak di barat laut China, gurun ini dikelilingi pegunungan tinggi yang menghalangi masuknya udara lembap hampir sepanjang tahun, menciptakan kondisi sangat kering yang tidak ramah bagi sebagian besar vegetasi.

Lebih dari 95% wilayah Taklamakan tertutup pasir yang terus bergerak. Selama puluhan tahun, kawasan ini dianggap sebagai wilayah nyaris tanpa kehidupan. Sejak 1950-an, ekspansi urbanisasi dan pertanian di China mempercepat degradasi lahan dan meningkatkan frekuensi badai pasir, yang memperparah proses desertifikasi.

Proyek “Great Green Wall” dan 66 Miliar Pohon

Pada 1978, pemerintah China meluncurkan Three-North Shelterbelt Program, proyek rekayasa ekologi ambisius yang juga dikenal sebagai “Great Green Wall”. Program ini bertujuan menanam miliaran pohon di wilayah utara China hingga 2050 untuk memperlambat desertifikasi, termasuk di sekitar Gurun Taklamakan dan Gurun Gobi.

Hingga kini, lebih dari 66 miliar pohon telah ditanam di China bagian utara. Pada 2024, China menyatakan telah menyelesaikan sabuk vegetasi yang sepenuhnya mengelilingi Gurun Taklamakan. Pemerintah menyebut upaya ini berhasil menstabilkan bukit pasir dan meningkatkan tutupan hutan nasional dari sekitar 10% pada 1949 menjadi lebih dari 25% saat ini.

Namun, efektivitas proyek ini dalam mengurangi badai pasir masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Taklamakan Kini Serap Lebih Banyak CO2

Penelitian terbaru menunjukkan dampak signifikan terhadap siklus karbon. Tim ilmuwan menganalisis data lapangan tentang berbagai jenis tutupan vegetasi, data satelit terkait curah hujan, tutupan hijau, fotosintesis, serta fluks CO2 selama 25 tahun terakhir. Mereka juga menggunakan model Carbon Tracker milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) untuk memetakan sumber dan penyerap karbon secara global.

Hasilnya menunjukkan tren jangka panjang berupa peningkatan vegetasi dan kenaikan penyerapan CO2 di sepanjang tepian gurun. Pola ini selaras secara waktu dan lokasi dengan pelaksanaan proyek Great Green Wall.

Selama musim hujan Taklamakan (Juli–September), curah hujan tercatat 2,5 kali lebih tinggi dibanding musim kering, dengan rata-rata sekitar 16 milimeter per bulan. Kenaikan curah hujan ini meningkatkan tutupan vegetasi, kehijauan, dan aktivitas fotosintesis di tepian gurun.

Konsentrasi CO2 di atas wilayah tersebut turun dari 416 bagian per sejuta (ppm) pada musim kering menjadi 413 ppm pada musim hujan—indikasi bahwa vegetasi menyerap karbon dalam jumlah signifikan.

“Kami menemukan, untuk pertama kalinya, bahwa intervensi yang dipimpin manusia dapat secara efektif meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering paling ekstrem,” kata Yuk Yung, profesor ilmu planet di Caltech sekaligus peneliti senior di NASA Jet Propulsion Laboratory, dalam keterangan tertulis dikutip Live Science.

Menurut Yung, kawasan Taklamakan, setidaknya di bagian tepinya, menjadi model pertama yang menunjukkan kemungkinan nyata mengubah gurun menjadi penyerap karbon yang stabil.

Penelitian sebelumnya memang menunjukkan kemungkinan Gurun Taklamakan berfungsi sebagai carbon sink. Namun, studi-studi tersebut berfokus pada penyerapan CO2 oleh pasir gurun. Masalahnya, penyimpanan karbon dalam pasir dianggap tidak stabil di tengah perubahan iklim.

Kenaikan suhu dapat menyebabkan udara di dalam pasir memuai dan melepaskan kembali CO2 ke atmosfer. Sebaliknya, vegetasi yang aktif berfotosintesis menawarkan mekanisme penyerapan karbon yang lebih berkelanjutan, selama ekosistemnya tetap terjaga.

Model Global untuk Kawasan Gurun?

Meski efektivitas Great Green Wall dalam menghentikan desertifikasi sepenuhnya masih belum dapat dipastikan, perannya sebagai penyerap karbon dinilai menjanjikan.

“Peranannya sebagai carbon sink dapat menjadi model berharga bagi wilayah gurun lainnya di dunia,” ujar Yung.

Temuan ini membuka peluang baru dalam strategi mitigasi perubahan iklim global. Di tengah meningkatnya suhu dan meluasnya desertifikasi di berbagai belahan dunia, pendekatan rekayasa ekologi berbasis vegetasi di wilayah kering kini mulai dipertimbangkan bukan hanya sebagai proyek penghijauan, tetapi juga sebagai instrumen pengendalian emisi karbon jangka panjang. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Gurun Taklamakan Rekayasa Ekologi Great Green Wall China Carbon Sink




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :