Ilustrasi burung terbang (Foto: AFP)
Paris, Jurnas.com - Polusi suara akibat aktivitas manusia memengaruhi perilaku burung di seluruh dunia, mulai dari mengganggu nyanyian kawin hingga menghambat kemampuan mereka mencari makan dan menghindari predator.
Para peneliti meninjau hampir empat dekade penelitian ilmiah dan menemukan bahwa kebisingan buatan manusia mengganggu kehidupan burung di enam benua, serta berdampak negatif kuat terhadap keberhasilan reproduksi.
Studi sebelumnya pada spesies tertentu telah menunjukkan bahwa sumber kebisingan seperti pesawat, lalu lintas, dan konstruksi dapat memengaruhi burung sebagaimana satwa liar lainnya.
Namun, dalam riset terbaru ini, tim peneliti melakukan analisis lebih luas dengan menggabungkan data publikasi sejak 1990 dari 160 spesies burung untuk melihat pola umum yang lebih jelas.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society B ini menemukan bukti kuat bahwa dampak polusi suara terhadap burung bersifat menyeluruh secara global, sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Rabu (11/2).
Para peneliti menyebut kebisingan secara signifikan memengaruhi komunikasi, perilaku waspada terhadap risiko, aktivitas mencari makan, agresivitas, hingga kondisi fisiologis burung, serta berdampak buruk pada penggunaan habitat dan reproduksi.
Hal ini terjadi karena burung sangat bergantung pada informasi akustik untuk bertahan hidup, sehingga mereka rentan terhadap kebisingan modern dari kendaraan, mesin, dan kehidupan perkotaan.
Natalie Madden, yang memimpin penelitian saat berada di University of Michigan, menjelaskan burung menggunakan lagu untuk mencari pasangan, panggilan untuk memperingatkan bahaya, dan suara anak burung untuk memberi tahu induknya bahwa mereka lapar.
Dia menekankan bahwa jika lingkungan terlalu bising, burung mungkin tidak lagi mampu mendengar sinyal penting dari sesama spesiesnya.
Dalam beberapa kasus, polusi suara mengganggu tampilan kawin, memaksa burung jantan mengubah lagu pendekatan, atau menutupi komunikasi antara anak burung dan induknya.
Responsnya berbeda antar spesies, dengan burung yang bersarang dekat tanah mengalami kerugian reproduksi lebih besar, sementara burung dengan sarang terbuka menunjukkan dampak lebih kuat pada pertumbuhan.
Burung yang hidup di wilayah urban juga cenderung memiliki kadar hormon stres lebih tinggi dibanding burung di luar kota.
Para penulis menilai polusi suara merupakan konsekuensi yang kurang mendapat perhatian dari dampak manusia terhadap alam, terutama dibanding faktor utama lain seperti hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
Sekitar 61 persen spesies burung dunia kini mengalami penurunan populasi, menurut International Union for Conservation of Nature pada Oktober lalu.
Meski begitu, Associate Professor Neil Carter dari University of Michigan mengatakan solusi untuk mengurangi polusi suara sebenarnya sudah tersedia, misalnya dengan menyesuaikan desain bangunan agar dapat meredam suara seperti halnya upaya meminimalkan tabrakan burung.
Dia menyebut bahwa manusia sudah mengetahui material dan cara membangun penghalang suara, tetapi dibutuhkan lebih banyak kesadaran dan kemauan untuk menerapkannya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
polusi suara burung kebisingan manusia satwa dampak reproduksi burung
























