Es mencair di Greenland (Foto: AFP)
Sisimiut, Jurnas.com - Pemanasan iklim kini mengancam cara hidup leluhur masyarakat Greenland. Salah satu warga lokal, Malik Kleist, mengatakan pada Februari ini, es laut di wilayah barat daya Greenland belum juga membeku, membuat dirinya kesulitan mencari anjing laut sebagai mata pencaharian.
"Biasanya anjing laut berada di atas es atau di perairan yang lebih tenang. Tapi hari ini kami harus berlayar jauh sampai ke Fjord untuk menemukannya," kata pria berusia 37 tahun itu kepada AFP.
Kawasan Arktik berada di garis depan pemanasan global. Wilayah ini memanas empat kali lebih cepat dibanding bagian lain planet sejak 1979, menurut studi 2022 di jurnal ilmiah Nature, sehingga menyebabkan es laut terus mundur.
Anjing laut sangat bergantung pada es terapung untuk melahirkan, beristirahat, dan berlindung. Akibatnya, para pemburu kini harus berlayar lebih jauh menyusuri pesisir Sisimiut yang terjal, menavigasi fjord selama berjam-jam demi menemukan hewan buruan.
Secara tradisional, perahu pemburu biasanya langsung menuju laut, perlahan menerobos lapisan es dan menciptakan lubang yang menarik anjing laut yang muncul untuk bernapas.
Namun tanpa es, “anginnya terlalu kencang dan ombaknya terlalu besar,” ujar Kleist.
Diketahui, 2025 tercatat sangat hangat di wilayah otonom luas tersebut, dengan sejumlah rekor suhu baru, menurut Danish Meteorological Institute (DMI).
Pada Desember, Summit Station di puncak lapisan es Greenland mencatat suhu rata-rata minus 30,9 derajat Celsius, atau 8,1 derajat lebih tinggi dibanding rata-rata Desember periode 1991–2020.
"Ini memengaruhi semua yang kami lakukan. Biasanya sekitar November atau Desember es datang. Tapi tahun ini tidak ada es, jadi sangat memengaruhi kehidupan kami," kata Kleist.
Karena kondisi serupa, pemerintah juga terpaksa menunda perburuan tahunan muskox musim dingin yang seharusnya dimulai 31 Januari. Salju dan es tidak cukup kuat untuk mengangkut hewan besar yang hidup di tundra Arktik dari Kangerlussuaq, yang berjarak sekitar 165 km. Greenland juga tidak memiliki jalan yang menghubungkan antar kota.
Hal ini membuat sebagian pemburu Sisimiut kehilangan pemasukan seperti biasanya. "Pada masa seperti ini tidak banyak yang bisa diburu. Jadi kami bergantung pada daging dan kulit muskox. Banyak rekan pemburu saya sekarang kesulitan uang," ujar Kleist.
Setiap bagian hewan, mulai dari bulu hingga daging, digunakan atau dijual. Karena itu, musim berburu musim panas kini menjadi semakin penting agar warga Greenland dapat mengisi freezer untuk bertahan sepanjang musim dingin.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
pemanasan global Arktik es Greenland mencair tradisi pemburu Greenland


























