Selasa, 10/02/2026 16:05 WIB

2 Juta Hektar Kebun Sawit Malaysia Menua, Produktivitas Menurun





Perkebunan kelapa sawit Malaysia yang menua diperkirakan meningkat hingga 2 juta hektare pada 2027, dari sekitar 1,7 juta hektare saat ini.

Perkebunan sawit di Malaysia (Foto: Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Perkebunan kelapa sawit Malaysia yang menua diperkirakan meningkat hingga 2 juta hektare pada 2027, dari sekitar 1,7 juta hektare saat ini. Kondisi ini diperkirakan akan menekan produksi negara tersebut sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua dunia.

Sekitar 35 persen perkebunan sawit Malaysia akan berusia 19 tahun atau lebih pada 2027, naik dari sekitar 30 persen pada 2026. Hal ini disampaikan Ketua Malaysian Palm Oil Council, Datuk Carl Bek-Nielsen, dalam konferensi industri di Kuala Lumpur pada Selasa (10/2).

Dia juga memperingatkan bahwa sekitar 800.000 hektare perkebunan telah terinfeksi penyakit jamur ganoderma.

"Kami melihat hasil panen sudah mencapai titik datar, stagnan, bahkan cenderung menurun. Industri sawit harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan produktivitas per hektare," kata Bek-Nielsen dikutip dari The Straits Times.

Menurut dia, penggunaan bibit dengan produktivitas tinggi dapat meningkatkan rata-rata hasil menjadi 4,5 ton minyak sawit mentah per hektare, dari sekitar 3,5 ton saat ini, sehingga total produksi bisa mencapai 26 juta ton pada 2035.

Malaysia memproduksi 20,3 juta ton minyak sawit mentah pada 2025, berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board.

Pemerintah Malaysia telah mengalokasikan RM20 juta pada 2026 untuk mendukung otomatisasi dan mekanisasi teknologi perkebunan sawit guna meningkatkan produksi. Hal itu disampaikan Menteri Perkebunan dan Komoditas Noraini Ahmad dalam konferensi yang sama.

Bek-Nielsen menambahkan bahwa penyitaan lahan perkebunan di Indonesia sebagai produsen pesaing akan memengaruhi pasokan dalam enam hingga delapan bulan ke depan, karena perusahaan menahan perawatan kebun serta input pupuk.

Satuan tugas kehutanan Indonesia pada 2025 menyita sekitar 4,1 juta hektare perkebunan yang disebut beroperasi ilegal di kawasan hutan, mencakup perusahaan besar maupun petani kecil.

Kampanye penegakan hukum tersebut diperkirakan meluas pada 2026, dengan target tambahan penyitaan 4 juta hingga 5 juta hektare perkebunan.

Bek-Nielsen mengatakan penundaan program biodiesel B50 Indonesia juga akan memberi tekanan negatif bagi pasar. Dia memperkirakan harga minyak sawit mentah pada 2026 akan bergerak di kisaran RM3.900 hingga RM4.000 per ton, sementara rata-rata harga penutupan pada 2025 berada di RM4.233.

Indonesia pada Januari mengumumkan pembatalan rencana penerapan wajib B50 pada 2026 karena kendala teknis dan pendanaan. Pemerintah Indonesia menyatakan mandat B40, dengan campuran 40 persen biodiesel berbasis sawit, tetap diberlakukan.

KEYWORD :

perkebunan sawit tua produksi minyak sawit harga CPO 2026 sawit Malaysia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :