Selasa, 10/02/2026 11:10 WIB

Iblis di `Penjara` saat Bulan Ramadan, Benarkah?





Ungkapan setan dipenjara saat Ramadan memang memiliki dasar hadis yang sahih. Namun maknanya bukan setan benar-benar hilang sama sekali.

Ilustrasi - Iblis (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Menjelang datangnya bulan Ramadan, umat Islam sering mendengar ungkapan bahwa setan “dipenjara” selama bulan puasa.

Pernyataan ini kerap dipahami secara harfiah, seolah-olah semua godaan benar-benar hilang selama Ramadan. Lalu, apakah benar demikian menurut ajaran Islam?

Dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan keistimewaan Ramadan ketika awal bulan tersebut tiba.

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila datang bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dasar munculnya istilah setan dipenjara saat Ramadan. Kata “shuffidat” (صُفِّدَتْ) dalam bahasa Arab berarti diikat atau dibelenggu. Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya bukan seluruh kejahatan otomatis hilang, melainkan kemampuan setan menggoda manusia menjadi jauh berkurang.

Sebagian ulama, seperti Imam An-Nawawi, menafsirkan bahwa yang dibelenggu adalah setan-setan yang paling kuat (maradah al-syayathin). Artinya, godaan masih bisa terjadi, tetapi tidak sekuat di bulan-bulan lain. Hal ini juga menjelaskan mengapa selama Ramadan masih ada manusia yang berbuat dosa.

Penjelasan lain menyebutkan bahwa Ramadan dipenuhi ibadah: puasa, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan sholat malam. Lingkungan spiritual ini mempersempit ruang gerak setan. Dengan kata lain, “terbelenggunya setan” juga berkaitan dengan meningkatnya ketaatan manusia, bukan hanya kondisi gaib semata.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa manusia tetap harus menjaga diri dari perilaku buruk selama berpuasa.

فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
“Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berteriak-teriak (bertengkar).” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa sumber kesalahan tidak hanya berasal dari setan, tetapi juga dari hawa nafsu manusia sendiri. Meski setan dibelenggu, manusia masih memiliki dorongan emosi, amarah, dan kebiasaan buruk yang harus dikendalikan.

KEYWORD :

Info Keislaman Iblis atau Setan Bulan Ramadan Bulan Ibadah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :