Senin, 09/02/2026 17:30 WIB

Kerap Disamakan, Ini Perbedaan Sinkhole, Tanah Amblas, dan Tanah Bergerak





Fenomena kerusakan permukaan tanah seperti sinkhole, tanah amblas, dan tanah bergerak kerap muncul dalam perbincangan publik

Fenomena sinkhole di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Foto: Geologi ESDM)

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena kerusakan permukaan tanah seperti sinkhole, tanah amblas, dan tanah bergerak kerap muncul dalam perbincangan publik. Namun, ketiga istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, meski masing-masing memiliki proses, penyebab, dan tingkat risiko yang berbeda.

Kesalahan memahami ketiga fenomena tersebut berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam mitigasi bencana dan penanganan wilayah terdampak. Karena itu, pemahaman yang tepat menjadi penting, terutama di daerah dengan kondisi geologi rentan.

Dikutip dari berbagai sumber, sinkhole adalah peristiwa runtuhnya permukaan tanah secara tiba-tiba akibat hilangnya penopang di bawah tanah. Menurut kajian geologi, peristiwa ini terjadi ketika rongga bawah tanah runtuh, umumnya di wilayah dengan batuan yang mudah larut oleh air seperti batu gamping.

Akibat runtuhan tersebut, permukaan tanah membentuk lubang atau cekungan yang muncul mendadak. Sinkhole sering terjadi tanpa gejala awal yang jelas sehingga berisiko tinggi terhadap keselamatan dan infrastruktur.

Berbeda dengan sinkhole, tanah amblas atau land subsidence merupakan penurunan permukaan tanah secara vertikal yang tidak selalu membentuk lubang besar. Proses ini dapat berlangsung perlahan maupun cepat, tergantung pada penyebabnya.

Tanah amblas umumnya dipicu oleh pemadatan tanah di bawah permukaan, pengambilan air tanah berlebihan, aktivitas penambangan, atau beban bangunan. Dampaknya sering terlihat dalam jangka panjang, seperti jalan menurun, bangunan retak, dan meningkatnya risiko genangan.

Dalam kajian geologi, sinkhole sebenarnya merupakan salah satu bentuk dari tanah amblas yang terjadi secara lokal dan ekstrem. Sementara itu, tanah amblas dapat mencakup wilayah yang lebih luas dan tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Sementara itu, tanah bergerak merupakan fenomena pergeseran massa tanah secara perlahan, baik secara mendatar maupun miring. Peristiwa ini tidak selalu menyebabkan penurunan permukaan tanah, tetapi dapat merusak bangunan secara bertahap.

Tanah bergerak biasanya ditandai dengan retakan tanah, bangunan yang perlahan miring, serta perubahan posisi jalan dan tiang. Fenomena ini sering terjadi di daerah perbukitan dengan tanah lempung dan kandungan air tinggi.

Dari sisi penyebab, sinkhole berkaitan erat dengan kondisi rongga bawah tanah dan sistem air tanah. Tanah amblas lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia, sedangkan tanah bergerak merupakan hasil interaksi antara kondisi geologi, kemiringan lereng, dan tata guna lahan.

Perbedaan proses tersebut membuat tingkat bahayanya juga tidak sama. Sinkhole bersifat paling tiba-tiba, tanah amblas berdampak luas dalam jangka panjang, sementara tanah bergerak berisiko merusak struktur secara perlahan namun berkelanjutan.

Di Indonesia, ketiga fenomena ini berpotensi terjadi mengingat kondisi geologi yang kompleks dan tekanan aktivitas manusia yang tinggi. Wilayah dengan batuan karst, eksploitasi air tanah berlebihan, serta kawasan perbukitan berlereng menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian khusus.

Dengan memahami perbedaan sinkhole, tanah amblas, dan tanah bergerak, masyarakat dan pemerintah dapat menentukan langkah mitigasi yang lebih tepat. Pemahaman yang benar bukan hanya soal istilah, tetapi menyangkut keselamatan jiwa dan keberlanjutan lingkungan. (*)

KEYWORD :

Fenomena Sinkhole Tanah Amblas Tanah Bergerak Kerusakan Permukaan Tanah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :