Senin, 09/02/2026 10:31 WIB

Studi: Senyawa Anti Penuaan Berpotensi Lindungi Otak dari Alzheimer





Sebuah penelitian di NUS Medicine menunjukkan bahwa molekul alami yang selama ini banyak diteliti karena efek anti-penuaan berpotensi memulihkan Alzheimer

Ilustrasi penyakit Alzheimer (Foto: Earth)

Singapura, Jurnas.com - Sebuah penelitian di National University of Singapore menunjukkan bahwa molekul alami yang selama ini banyak diteliti karena efek anti-penuaan, berpotensi meningkatkan komunikasi antar sel otak dan memulihkan fungsi memori penting yang terganggu akibat penyakit Alzheimer.

Profesor Brian Kennedy yang memimpin penelitian ini mengatakan temuan tersebut mengindikasikan molekul bernama calcium alpha-ketoglutarate (CaAKG), senyawa alami yang dinilai aman, suatu hari dapat melengkapi pendekatan yang sudah ada untuk melindungi otak dan memperlambat penurunan daya ingat.

“Karena AKG sudah ada secara alami dalam tubuh kita, menargetkan jalur ini mungkin menawarkan risiko lebih kecil dan akses yang lebih luas,” ujarnya, dikutip dari The Straits Times pada Senin (9/2).

“Dengan begitu, kita mungkin memiliki strategi baru yang kuat untuk menunda penurunan kognitif dan mendukung penuaan otak yang sehat,” tambah Ketua Healthy Longevity Translational Research Programme di NUS Yong Loo Lin School of Medicine (NUS Medicine) tersebut.

Penelitian NUS Medicine ini dipublikasikan dalam jurnal Aging Cell pada September 2025, dan tujuan akhirnya adalah menguji efektivitas senyawa tersebut pada pasien manusia.

Dengan banyaknya warga Singapura yang menghabiskan hampir satu dekade di akhir hidup dalam kondisi kesehatan buruk, para ilmuwan di NUS Medicine meneliti proses penuaan dapat dimodifikasi untuk mencegah penyakit seperti Alzheimer.

AKG merupakan metabolit alami yang penting bagi fungsi dasar sel, sedangkan CaAKG adalah bentuk suplemen dari metabolit tersebut.

Para peneliti menjelaskan bahwa AKG telah terbukti memperpanjang umur pada organisme sederhana seperti cacing gelang dan lalat buah, sementara studi pada tikus menunjukkan CaAKG berkaitan dengan peningkatan umur panjang dan perbaikan healthspan atau masa hidup sehat.

Dalam penelitian ini, tim menemukan CaAKG tidak hanya memperbaiki sinyal yang melemah antar neuron, tetapi juga memulihkan memori asosiatif, yaitu jenis memori jangka pendek yang termasuk kemampuan awal yang hilang pada penderita Alzheimer.

Prof Kennedy menambahkan bahwa karena kadar AKG secara alami menurun seiring bertambahnya usia, mengisi kembali molekul ini bisa menjadi cara menjanjikan untuk mendukung penuaan otak yang lebih sehat dan menurunkan risiko penyakit neurodegeneratif.

Studi ini kemungkinan merupakan yang pertama meneliti efek CaAKG dalam konteks patologi terkait Alzheimer dengan menggunakan model praklinis.

Prof Kennedy mengatakan langkah selanjutnya adalah memvalidasi temuan ini pada berbagai model laboratorium Alzheimer dan pada akhirnya melalui penelitian pada manusia.

Dia dan timnya juga berharap melanjutkan riset terkait CaAKG dan AKG untuk memahami lebih jauh peran keduanya dalam proses penuaan. AKG maupun CaAKG saat ini sudah tersedia dalam bentuk suplemen komersial, tetapi penelitian pada manusia mengenai efek anti-penuaan masih terbatas.

"Pada tahap ini, masih terlalu dini untuk menyarankan bahwa lansia dapat diresepkan suplemen CaAKG bersama latihan otak atau intervensi lain untuk mencegah Alzheimer atau memperlambat hilangnya memori," kata Prof Kennedy.

Dia menekankan bahwa studi tambahan, termasuk uji klinis pada manusia, masih sangat diperlukan.

Asisten Profesor Ch’ng Toh Hean dari Lee Kong Chian School of Medicine dan School of Biological Sciences di Nanyang Technological University, yang meneliti biologi pembentukan memori jangka panjang, menilai hasil ini sangat menarik dan menjanjikan.

Dia menjelaskan para ilmuwan menunjukkan bahwa dengan menambahkan CaAKG pada irisan otak tikus yang memiliki gejala mirip Alzheimer, mereka mampu memulihkan sebagian defisit sinaptik dalam komunikasi antar sel otak melalui eksperimen pada model seluler yang sering digunakan untuk mempelajari mekanisme molekuler memori.

Namun, seperti banyak studi in-vitro yang menguji senyawa terapeutik, pengujian lanjutan terutama studi perilaku pada hewan perlu dilakukan untuk melengkapi hasil laboratorium tersebut. Studi in-vitro adalah pengujian yang dilakukan dalam wadah di luar organisme hidup.

Prof Ch’ng menambahkan bahwa eksperimen lanjutan pada model hewan serta uji klinis manusia harus dilakukan secara hati-hati untuk menilai dampak dan keamanan penggunaan senyawa ini.

KEYWORD :

molekul CaAKG Alzheimer penelitian NUS Medicine senyawa anti penuaan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :